Pasar China Ketat, Bukit Asam Bidik Laos & Srilanka

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
11 March 2019 14:13
Pasar China Ketat, Bukit Asam Bidik Laos & Srilanka
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan dapat memperluas pasar ekspor baru untuk penjualan batu bara tahun ini ke Laos dan Srilanka.

Strategi ini sejalan dengan target peningkatan penjualan batu bara tahun ini menjadi 28,38 juta ton, naik dari realisasi penjualan tahun lalu 23,6 juta ton.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan bertambahnya negara tujuan ekspor batu bara perusahaan di tahun ini ditujukan untuk mendapatkan harga jual yang lebih baik.

Sebab, saat ini harga penjualan ke pasar tujuan ekspor tradisional seperti China, India dan Jepang sulit bersaing karena suplai batu bara di negara-negara tersebut cukup tinggi.


"Calon pasar baru Laos dan Srilanka diharapkan kalau keluar dari pasar tradisional akan buat harga lebih baik," kata Arviyan dalam paparan kinerja 2018 di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (11/3).


Dalam kesempatan tersebut, Direktur Niaga Bukit Asam Adib Ubaidillah mengatakan saat ini harga jual batu bara ke China cukup tertekan lantaran Negeri Panda ini melakukan pembatasan pembelian batu bara impor.

Dengan kondisi tersebut perusahaan harus mencari pasar alternatif untuk menyerap penjualan batu bara perusahaan.

Selain itu, tahun ini, penjualan batu bara berkalori tinggi diharapkan bisa meningkat jumlahnya menjadi 3,5 juta ton.

Perusahaan pun tengah membidik penjualan ke negara baru. Saat ini, Jepang menjadi negara yang bakal disasar dan prosesnya dalam tahap negosiasi.

Adapun total produksi batu bara sepanjang 2019 ditargetkan sebanyak 27,26 juta ton dengan volume pengangkutan kereta api sebanyak 25,3 juta ton.

Porsi penjualan ekspor dan domestik masih akan dijaga di level seimbang 50:50 dengan target ekspor sebanyak 10,76 juta ton.

"Ada room 20% dilakukan spot swing bisa domestik dan ekspor. Strateginya tergantung swing harga kemana akan lari," tambah Adib.


Simak strategi PTBA membangun pabrik dan kawasan senilai Rp 17 triliun.
[Gambas:Video CNBC]

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading