Fokus Investor

Garuda Resmi Caplok Sriwijaya Hingga Laba BCA Capai Rp 26 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
01 March 2019 08:40
Garuda Resmi Caplok Sriwijaya Hingga Laba BCA Capai Rp 26 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri perdagangan akhir Februari lalu dengan pelemahan 1,26% ke level 6.443,35. IHSG lantas harus rela ditutup di bawah level psikologis 6.500 untuk kali pertama dalam 7 hari perdagangan.

Kinerja indeks senada dengan bursa saham utama kawasan Asia kompak diperdagangkan melemah: indeks Nikkei turun 0,79%, indeks Shanghai melemah 0,44%, indeks Hang Seng terkoreksi 0,43%, indeks Straits Times jatuh 0,98%, dan indeks Kospi anjlok 1,76%.

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada emiten-emiten dan layak disimak oleh investor sebelum perdagangan hari ini, Jumat (01/03/2019) dibuka.


1. Garuda Siap Caplok 51% Saham Sriwijaya
Emiten penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berencana mengakuisisi minimal 51% saham PT Sriwijaya Air karena opsi tersebut sudah termaktub dalam perjanjian kerja sama operasi (KSO) yang diteken bersama kedua pihak pada November 2018.

"Oh iya kami di dalam perjanjian memang sudah ada opsi untuk membeli minimum 51% [saham Sriwijaya]," kata Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

2. Kembangkan Layanan Digital, BCA Siapkan Capex Rp 5,2 T
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) siapkan dana sebesar Rp5,2 triliun guna mengembangkan digitalisasi tahun ini. Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan besaran dana itu merupakan cost dan capital expenditure (capex) termasuk sistem keamanan (security), software, dan hardware.

"Total cost dan capex digital Rp 5,2 triliun tahun ini. Itu termasuk security, software, hardware," kata Jahja dalam Konferensi Pers Laporan Keuangan Full Year 2018 di Hotel Kempinski, Kamis (28/2/2019).

3. Makin Tertekan, HERO Merugi hingga Rp 1,25 T
Bisnis ritel yang dilakoni PT Hero Supermarket Tbk (HERO) benar-benar sedang dalam tekanan. Rugi bersih yang dibukukan perseroan semakin besar, meskipun perseroan sudah mencoba berbagai upaya untuk menyelamatkan bisnis.

Berdasarkan laporan keuangan yang di rilis perseroan hari ini, Kamis (28/02/2019), kerugian yang dialami perseroan sepanjang 2018 meningkat tajam. Nilainya mencapai Rp 1,25 triliun dari Rp 191,41 miliar pada 2017. Sepanjang 2018 perseroan harus menerima kenyataan pendapatan turun 0,49% menjadi Rp 12,97 triliun dari Rp 13,03 pada 2017. Padahal, beban usaha perseroan turun 3,29% menjadi Rp 9,27 triliun.

4. Mas Murni Incar Rp 781,6 M dari Rights Issue
Emiten properti dan perhotelan yang berbasis di Surabaya, PT Mas Murni Indonesia Tbk (MAMI) berencana melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Target dana yang dibidik mencapai Rp 781,6 miliar.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (27/2/2019), MAMI akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 7,18 miliar saham baru atau tepatnya 7.186.536.170. Saham tersebut ialah saham seri B dengan harga penawaran Rp 100/saham, naik dari penawaran sebelumnya yakni Rp 96/saham. Harga penawaran ini di atas harga rata-rata saham MAMI per 27 Februari yakni Rp 128/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 656,29 miliar.

5. Laba BCA 2018 Tembus Rp 25,9 T, Naik 10,9%
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih hingga Rp 25,9 triliun. Laba tersebut naik 10,9% dibandingkan 2017 lalu yang sebesar Rp 23,3 triliun

Demikian disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam konferensi persnya di Hotel Kempinski, Kamis (28/2/2019).

Pertumbuhan laba bersih tersebut didorong antara lain oleh pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya yang tumbuh 10,6% menjadi Rp 63 triliun di 2018 dibandingkan tahun sebelumya yang hanya Rp 57 triliun. "Pendapatan bunga bersih meningkat 8,3% menjadi Rp 45,3 triliun. Sementara pendapatan operasional lainnya tumbuh 17% menjadi Rp 17,7 triliun di 2018," kata Jahja.


6. ABM Investama Raih Kontrak Baru Senilai US$ 114 Juta
Emiten pertambangan, PT ABM Investama Tbk (ABMM) menandatangani kontrak baru untuk jasa pertambangan dengan PT Muara Alam Sejahtera (MAS) senilai US$ 114 juta. Kontrak baru itu ditandatangani pada 25 Februari 2019 melalui anak usaha ABMM yang juga kontraktor tambang, PT Cipta Kridatama.

Sekretaris Perusahaan Rindra Donovan, menyatakan, area tambang dari MAS terletak di Merapi, Lahat, Sumatera Selatan. Nilai kontrak berlaku selama tiga tahun dan bakal memulai produksi pada awal Maret 2019. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading