Masih Ditopang Damai Dagang, Wall Street Diprediksi Menguat

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
14 February 2019 19:18
Masih Ditopang Damai Dagang, Wall Street Diprediksi Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia - Wall Street diprediksi akan dibuka menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (14/2/2019), melanjutkan penguatan yang sudah dibukukan pada perdagangan Rabu kemarin.

Kontrak futures Dow Jones mengimplikasikan kenaikan sebesar 68 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite diimplikasikan naik masing-masing sebesar 5 dan 24 poin.

Optimisme terkait damai dagang AS-China kembali menjadi motor utama bagi Wall Street. Pada hari ini, Bloomberg melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk memperpanjang periode gencatan senjata bidang perdagangan dengan China selama 60 hari, menurut orang-orang yang familiar dengan hal tersebut.


Jika tak diperpanjang, bea masuk bagi produk impor asal China senilai US$ 200 miliar akan dinaikkan menjadi 25%, dari yang saat ini 10%, mulai tanggal 2 Maret.

Jika periode gencatan senjata benar-benar diperpanjang, maka kesepakatan dagang secara permanen menjadi kian mungkin untuk dicapai kedua negara.

Sebagai informasi, pada hari ini dan besok, Jumat negosiasi dagang tingkat menteri digelar di Beijing, melibatkan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, dan Wakil Perdana Menteri China Liu He.

Pada perdagangan hari ini, investor dihadapkan pada sejumlah rilis data ekonomi. Pada pukul 20:30 WIB, pertumbuhan penjualan barang-barang ritel periode Desember 2018 akan diumumkan, bersamaan dengan angka inflasi di tingkat produsen periode Januari 2019.

Masih pada pukul 20:30 WIB, angka klaim tunjangan pengangguran untuk minggu yang berakhir pada 9 Februari akan dirilis.

Rilis data tersebut akan dijadikan acuan oleh investor untuk mengukur seberapa besar tekanan yang sedang menerpa perekonomian AS. Namun, jika data-data ekonomi tersebut diumumkan jauh lebih baik dari ekspektasi, bursa saham AS justru bisa berbalik arah ke zona merah.

Pasalnya, The Federal Reserve selaku bank sentral AS menjadi memiliki amunisi untuk mengerek suku bunga acuan. Dengan perekonomian China dan Eropa yang tengah berada dalam tren perlambatan, kenaikan suku bunga acuan, apalagi jika agresif, tentu bukan merupakan opsi yang ideal.

Tidak ada anggota FOMC yang dijadwalkan berbicara pada hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading