Alasan Reksa Dana Saham Jadi yang Paling Menarik di 2019

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 February 2019 14:52
Alasan Reksa Dana Saham Jadi yang Paling Menarik di 2019
Jakara, CNBC Indonesia - Bank Commonwealth merekomendasikan portofolio investas dalam bentuk reksa dana saham untuk tahun ini. Sebab, terdapat faktor-faktor pendukung yang membuat investasi di portofolio ini berpeluang memberikan imbal hasil yang optimal ketimbang dengan jenis reksa dana lainnya.

Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan memasuki 2019 sentime yang datang dari ketegangan antara Amerika Serikat dan China mereda sehingga mulai mengurangi ketidakpastian arah pasar keuangan yang timbul di tahun lalu.

"Walaupun pertumbuhan ekonomi Global diperkirakan akan melambat di tahun 2019, tetapi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih akan akan positif 5%-5,4% sepanjang tahun 2019 ditopang oleh daya beli konsumen yang terjaga dan dampak positif persiapan pemilu. Pertumbuhan ekonomi umumnya positif ke pertumbuhan pasar saham, sehingga untuk nasabah dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio," kata Ivan dalam siaran persnya, Kamis (14/2).

Katalis positif investasi di reksa dana saham tahun ini antara lain keputusan The Fed untuk menahan suku bunga acuan di angka 2,25%-2,50%.


Hal ini mengurangi kekhawatiran investor akan terlalu cepatnya kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Sebagai respon atas kebijakan The Fed tersebut, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Indonesia di level 6,00%

Selain itu, investor juga memiliki keyakinan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok dapat terselesaikan, yang meredakan ketegangan mengenai ketidakpastian pasar keuangan global selama tahun 2018.

Prediksi mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019, cenderung menjadi sentimen yang cukup baik bagi emerging market, karena walaupun pertumbuhan developing market diprediksi akan melambat tetapi pertumbuhan emerging market diperkirakan akan tetap stabil dan cenderung membaik.

Indonesia sebagai salah satu negara emerging market dengan fundamental yang kuat memberikan tingkat return dan risiko yang menarik untuk menjadi tujuan investasi para investor asing.

Hal ini terlihat dari total dana asing yang tercatat net buy sebesar Rp11,31 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang bulan Januari 2019 dan penguatan mata uang Indonesia Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 2,88%.

Dari sisi domestik, fundamental Indonesia yang kuat terlihat dari terjaganya nilai inflasi sepanjang tahun 2018, tercatat sebesar 3,13%, yang menunjukkan kondisi perekonomian yang stabil. Sementara itu di bulan Januari lalu juga dibuka dengan kondisi politik Indonesia yang relatif stabil, setelah debat pertama antara capres-cawapres berakhir dengan baik.

Iklim investasi pada bulan Februari 2019 masih akan terfokus pada kelanjutan perundingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan diantara kedua negara ekonomi terbesar tersebut.

Investor juga akan melihat perkembangan dari Brexit di Eropa, dan hasil laporan keuangan perusahaan tahun 2018 yang mulai dirilis bulan Februari 2019.

Meski demikian, ada beberapa agenda yang masih harus diperhatikan seperti Perkembangan politik Inggris, terutama menjelang persetujuan proposal Brexit oleh Parlemen Inggris, pertumbuhan ekonomi global yang melambat, yang dimotori oleh perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok, dan jelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia tahun 2019. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading