Yiled Obligasi Tinggi, Ini Strategi MI Jaga Bisnis Reksa Dana

Investment - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
06 February 2019 11:31
Yiled Obligasi Tinggi, Ini Strategi MI Jaga Bisnis Reksa Dana
Jakarta, CNBC Indonesia - Imbal hasil (yield) Saving Bond Ritel (SBR) seri 005 dan Sukuk Tabungan (ST 003) dipatok tinggi oleh Pemerintah sebesar 8,15%. Sejumlah manager investasi kini tengah putar otak menghadapi imbal hasil SBR Pemerintah.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, imbal hasil surat utang Pemerintah tidak begitu berpengaruh terhadap reksa dana pasar uang. Sementara, untuk reksa dana terproteksi memang diberlakukan strategi yang berbeda di mana penawaran mesti kompetitif dari segi bunga dan waktu penerbitan.

"Karena kalau misalnya bunganya tidak selisih jauh tapi timingnya sama [dengan penerbitan SBR] bisa tidak laku atau kurang laku. Kalau terlalu bersamaan sedikit banyak ada impact," ujar Rudiyanto kepada CNBC Indonesia, Senin (4/2/2019).


Rudiyanto mengatakan, setidaknya penerbitan produk reksa dana dikeluarkan seminggu setelah terbitnya obligasi ritel Pemerintah. Dengan begitu, kemungkinan orang-orang yang tidak bisa beli obligasi ritel Pemerintah akan memilih reksadana sebagai alternatif.

"Kan bisa saja seperti itu. Jadi ya kalau memang ada penerbitan ya itu bagian dari kompetisi lah. Tanpa ada SBR 005 juga tetap ada yang lain kok [kompetitro]," lanjutnya.

Tahun ini, lanjut Rudiyanto, Panin Asset Management baru menerbitkan satu produk reksa dana terproteksi dengan bunga 8,1% (nett). Bandingkan dengan obligasi ritel Pemerintah yang 8,1% (gross).

Artinya, menurut Rudiyanto, persaingan sejak dulu memang sudah ada. Tinggal pintar-pintar manajer investasi mengelola. Tanpa ada SBR, manajer investasi sudah berkompetisi dengan deposito atau produk-produk lainnya yang bahkan menjanjikan bunga tetap.

"Kita tidak bisa tentukan berapa bunga dari satu reksadana terproteksi karena per seri, ada yang 8%. Kita cuma 7%. Tergantung pada saat diterbitkan itu dia dapatnya obligasi apa. Jadi bisa tahu dari situ," kata Rudiyanto yang mengelola dana dari reksadana per Januari 2019 sebesar Rp13 triliun.

Hanya saja, kemungkinan size penerbitan tidak akan terlalu tinggi di tahun ini, sekitar Rp30 miliar- Rp40 triliun.  Angka sebesar itu kemungkinan masih bisa terserap. Berbeda jika target melebihi itu maka butuh upaya lebih. 

Head of Businesses Alliance and Product Development PT Ciptadana Asset Management Indrawan Rahardja memproyeksi imbal hasil reksadana (return) reksadana pasar uang masih akan tetap di range 6%-7%. Terkecuali bila suku bunga acuan kembali naik.

"Kecuali kalau misal dari reksadana tersebut ada yang ambil portfolionya bukan hanya di deposito tapi dia juga bisa masuk ke short term bond. Short term bond itu mungkin ada pengaruh," ujarnya.

Ancaman untuk reksa dana terproteksi, kata Indrawan, sebenarnya ada di tahun 2021 nanti. Pasalnya, pemberlakuan pajak underlying asset obligasi akan berubah dari 5% menjadi 10%. Artinya, pemegang reksa dana terproteksi dalam waktu tiga tahun ke depan harus lebih berhati-hati.

"Kalau tidak diteruskan lagi insentif pajaknya maka dia akan turun, turunnya cukup jauh karena pajak dari 5% ke 10%," tuturnya.

Saksikan video tentang prospek industri reksa dana pada tahun 2019 di bawah ini:

[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading