Ekonom: Investasi Bisa Tumbuh 6% di Tahun Politik

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
06 February 2019 14:23
Ekonom: Investasi Bisa Tumbuh 6% di Tahun Politik
Jakarta, CNBC Indonesia - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan investasi di Indonesia bisa tumbuh di level 6% di tahun 2019. Target itu bisa dicapai dengan catatan, pemerintah bisa memetakan apa yang investor butuhkan agar mau menanamkan modalnya di tanah air.

Sepanjang tahun 2018, realisasi investasi Indonesia hanya tumbuh 4% atau sebesar Rp 721,3 triliun, angka itu jauh di bawah target ditetapkan pemerintah sebesar Rp 765 triliun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Pada triwulan keempat, porsi penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp 99 triliun, atau turun 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang berada di posisi Rp 112 triliun.

"Tahun lalu investasi di bawah pertumbuhan ekonomi, 4%, biasanya investasi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi, tahun ini harapannya bisa di atas 6%, dengan syarat, pemerintah memetakan apa yang investor butuhkan," kata peneliti INDEF Ahmad Heri Firdaus, kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/2/2019).


Heri menambahkan, dinamika politik juga akan memperngaruhi iklim investasi tahun ini, hal itu membuat sikap pelaku pasar cenderung untuk wait and see.

Namun faktor yang menurutnya lebih menentukan mengenai kebijakan yang diambil pelaku pasar akan tergantung pada hasil pemenang Pilpres 2019. "Siapapun yang menjadi pemerintah, harus ada guidance besar: menciptakan iklim bisnis makin kondusif, jaga stabiltas iklim investasi," ujarnya.

Pada kesempatan sebelumnya, ekonom Chatib Basri merespons perihal realisasi investasi Indonesia di 2018 yang melandai. Menurutnya, memang ada beberapa faktor yang menyebabkan invetasi ke Indonesia seret, salah satunya karena efek pengetatatan kebijakan moneter di Amerika Serikat, sehingga arus dana keluar dari negara-negara emerging berbalik ke negara maju. Efek ini juga berimbas pada pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang.

"Ini efek tightening kemarin dari global itu pasti berpengaruh. Ketika Fed kemudian Bank Sentral Eropa melakukan tightening, itu modal kembali lagi ke advance country," kata Chatib saat jumpa pers di acara Mandiri Investment Forum, Rabu (30/1/2019).

Selain itu, Chatib berendapat, gejolak harga komoditas mengalami juga menjadi salah satu penyebab investor yang semula mau menanamkan modal di Indonesia cenderung menunggu. Akibatnya, penanaman modal di dalam negeri melambat.

"Mudah-mudahan kalau The Fed menunda kenaikan bunga acuanya dan modal kembali ke emerging markets, itu mereka bisa investasi lagi," jelas Chatib.

Kepala BKPM Thomas Lembong menjelaskan, secara global memang terjadi penurunan investasi asing sepanjang tahun lalu yang disebabkan sentimen perang dagang. "Data UNCTAD menunjukkan FDI internasional secara global tahun lalu turun 20%. Jadi 2018 memang tahun yang sangat sulit untuk penanaman modal asing secara global," ujar Lembong di kantornya, Rabu (30/1/2019).

Lembong mengatakan di 2019 ditargetkan realisasi investasi untuk PMA dan PMDN mencapai Rp 702,3 triliun. "Saya yakin 2019 membaik terutama siklus politik, siklus ekonomi, sebelum pemilu pasti investasi melambat dan saat selesai pemilu akan naik. Investasi akan recover," pungkas Lembong. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading