Harga Minyak Memanas, Pasar Obligasi Kembali Lesu

Market - Irvin Avriano A & tahir saleh, CNBC Indonesia
18 January 2019 19:44
Harga Minyak Memanas, Pasar Obligasi Kembali Lesu
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah ditutup terkoreksi menjelang akhir pekan ini akibat kenaikan harga minyak mentah global. 

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  

Koreksi juga menggenapi tren bearish (koreksi) akibat penurunan harga SUN acuan secara beruntun sejak akhir pekan lalu.


Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).  

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri paling terkoreksi adalah seri 20 tahun dengan kenaikan yield 4,6 basis poin (bps) menjadi 8,57%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.  

Seri acuan lain adalah 10 tahun dan 15 tahun dengan kenaikan yield 0,5 bps dan 0,8 bps menjadi 8,08% dan 8,52%. Seri 5 tahun masih menguat dengan penurunan yield 0,1 bps menjadi 7,99%. 

Kenaikan harga minyak yang masih berlanjut hari ini disebabkan semakin meredupnya api perang dagang yang diprediksi akan mendongrak konsumsi dan permintaan minyak mentah. 

Selain itu, OPEC baru merilis data realisasi pemangkasan produksi menjadi 751.000 barel per hari sepanjang Desember, lebih rendah dari survei prediksi pelaku pasar 460.000 barel per hari.

 
Yield Obligasi Negara Acuan 18 Jan 2019
SeriJatuh tempoYield 17 Jan 2019 (%) Yield 18 Jan 2019 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 17 Jan'19
FR00775 tahun7.9927.991-0.107.9627
FR007810 tahun8.0838.0880.508.0988
FR006815 tahun8.5148.5220.808.5277
FR007920 tahun8.5288.5744.608.5461
Avg movement1.45
Sumber: Refinitiv  

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih melemah.  

Indeks tersebut turun 0,02 poin (0,01%) menjadi 235,39 dari posisi kemarin 235,41. 

Koreksi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 532 bps, menyempit dari posisi kemarin 536 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun naik hingga 2,76% dari posisi kemarin 2,71%. 

Untuk pasar US Treasury, saat ini inversi yang sempat terjadi pada 17 Januari pada tenor 2 tahun-5 tahun kembali melonggar, seiring dengan potensi inversi seri 3 bulan-10 bulan yang selisihnya (spread) melebar menjadi 35 bps dari posisi sebelumnya 28 bps.

 
Yield US Treasury Acuan 18 Jan 2019
SeriBenchmarkYield 17 Jan 2019 (%) Yield 18 Jan 2019 (%)Selisih (Inversi)Satuan Inversi
UST BILL 20193 Bulan2.412.4123 bulan-5 tahun-18.1
UST 20202 Tahun2.5642.5852 tahun-5 tahun-0.8
UST 20213 Tahun2.5522.5713 tahun-5 tahun-2.2
UST 20235 Tahun2.5692.5933 bulan-10 tahun-35.6
UST 202810 Tahun2.7472.7682 tahun-10 tahun-18.3
Sumber: Refinitiv  


Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, saat ini investor asing menggenggam Rp 904,74 triliun SBN, atau 37,44% dari total beredar Rp 2.416 triliun berdasarkan data per 17 Januari.  

Angka kepemilikannya masih positif Rp 11,49 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, tetapi persentasenya masih turun dari 37,71% pada periode yang sama. 

Koreksi di pasar surat utang hari ini juga tidak seperti yang terjadi di pasar ekuitas dan pasar uang.  

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,38% menjadi 6.448 pada penutupan akhir pekan ini, sedangkan nilai tukar rupiah menguat 0,04% menjadi Rp 14.170 di hadapan tiap dolar AS. 

Pelemahan dolar AS seiring dengan turunnya nilai mata uang dolar AS di depan mata uang utama negara lain, yaitu Dollar Index yang melemah 0,05% menjadi 96,01. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan dialami oleh sebagian besar penghuni daftar tersebut yaitu di Brasil, Malysia, Filipina, dan Rusia. 

Di negara maju, hampir seluruh pasar obligasi melemah, yang justru mengindikasikan adanya aliran dana ke pasar ekuitas di masing-masing negara yang mengindikasikan adanya mode risk-on di tengah kondisi sekarang. 

 
Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 17 Jan 2019 (%) Yield 18 Jan 2019 (%)Selisih (basis poin)
Brasil9.259.21-4.00
China3.0913.1182.70
Jerman0.2420.2632.10
Perancis0.6430.6591.60
Inggris 1.3371.3612.40
India7.5637.5912.80
Italia2.762.731-2.90
Jepang0.0050.0120.70
Malaysia4.2684.069-19.90
Filipina6.4446.435-0.90
Rusia8.38.28-2.00
Singapura2.1622.23.80
Thailand2.4752.480.50
Turki15.3915.36-3.00
Amerika Serikat2.7472.7682.10
Afrika Selatan8.788.8911.00
 Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading