Obligasi Global Bergerak Naik, Pasar SUN Kok Beda Sendiri?

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
11 January 2019 17:51
Obligasi Global Bergerak Naik, Pasar SUN Kok Beda Sendiri?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi di tengah sentimen negatif kenaikan harga minyak. 

Penurunan harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  

Data Refinitiv menunjukkanterkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).  


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. 

Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri yang paling terkoreksi adalah seri FR0079 bertenor 20 tahun dengan kenaikan yield 4,2 basis poin (bps) menjadi 8,37%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.  

Seri acuan lain juga terkoreksi yaitu seri 5 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun dengan kenaikan yield hingga 7,88%, 7,96%, dan 8,31%.
 
Yield Obligasi Negara Acuan 11 Jan 2019
 
SeriJatuh tempoYield 10 Jan 2019 (%) Yield 11 Jan 2019 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 11 Jan'19
FR00775 tahun7.8567.8832.707.8816
FR007810 tahun7.9227.963.807.9495
FR006815 tahun8.2948.3182.408.3072
FR007920 tahun8.338.3724.208.3536
Avg movement3.28
Sumber: Refinitiv  

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik
PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih melemah.
 

Indeks tersebut turun 0,36 poin (0,14%) menjadi 236,35 dari posisi kemarin 236,68. 

Koreksi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 525 bps, melebar dari posisi kemarin 522 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun turun hingga 2,71% dari posisi kemarin 2,73%. 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, saat ini investor asing menggenggam Rp 904,27 triliun SBN, atau 37,89% dari total beredar Rp 2.386 triliun berdasarkan data per 9 Januari. 

Angka itu melanjutkan rekor pada 8 Januari yang mencapai Rp 902 triliun.

Angka kepemilikannya masih positif Rp 11,02 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. 

Koreksi di pasar surat utang hari ini juga tidak seperti kenaikan yang terjadi di pasar ekuitas dan pasar uang.  

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,52% menjadi 6.361 hingga sore ini, sedangkan nilai tukar rupiah menguat 0,07% menjadi Rp 14.040 di hadapan tiap dolar AS.

Pelemahan dolar AS seiring dengan turunnya nilai mata uang dolar AS di depan mata uang utama negara lain, yaitu Dollar Index yang melemah 0,2% menjadi 95,35. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan terjadi di pasar China, Malaysia, Filipina, Rusia, Singapura, Thailand, dan Afsel. 

Di negara maju, penguatan dialami pasar bund di jerman, OAT di Perancis, gilts di Inggris, JGB di Jepang, dan US Treasury di AS. 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 10 Jan 2019 (%) Yield 11 Jan 2019 (%)Selisih (basis poin)
Brasil9.0959.2111.50
China3.143.138-0.20
Jerman0.1970.187-1.00
Perancis0.6750.662-1.30
Inggris 1.2761.259-1.70
India7.4767.5063.00
Italia2.8942.859-3.50
Jepang0.0250.017-0.80
Malaysia4.0774.07-0.70
Filipina6.7646.622-14.20
Rusia8.418.33-8.00
Singapura2.2182.186-3.20
Thailand2.5452.53-1.50
Turki16.2215.98-24.00
Amerika Serikat2.7312.71-2.10
Afrika Selatan8.7758.745-3.00
 Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading