Bad News 2018

Obligasi Negara RI Hadapi Tahun Penuh Gejolak

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
31 December 2018 07:53
Obligasi Negara RI Hadapi Tahun Penuh Gejolak
Jakarta, CNBC Indonesia - Menengok ke belakang hingga ke awal tahun ini, pasar obligasi pemerintah domestik ternyata telah mengalami pasang-sekaligus-surut yang ekstrem.

Bagaimana tidak, harga surat utang pemerintah ternyata telah mengalami kenaikan terhebat sejak 2013 dan terendah setidaknya sejak 2016.



Kenaikan harga obligasi tersebut tercermin dari turunnya tingkat imbal hasil (yield) karena pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder.


Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Data Refinitiv menunjukkan yield seri acuan 10 tahun yang sering menjadi acuan utama pelaku pasar sempat menyentuh level terendah pada 6,06% pada 12 Januari, ketika pelaku pasar global mengalami euforia setelah diterjang badai positif perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Posisi yield FR0064 tersebut menjadi yang terendah sejak 3 Juni 2013.

Sebaliknya, posisi yield tertinggi 2018, yaitu 8,54%, terjadi pada 16 Oktober, ketika yang menjadi biang keroknya adalah memanasnya perang dagang yang terjadi antara AS-China.

Posisi itu menjadi yang tertinggi sejak angka yield tenor yang sama menyentuh 8,57% pada 21 Januari 2016.

Foto: Yield Obligasi FR0064 (Foto: Tim Riset CNBC Indonesia/Irvin Avriano)
Meskipun hanya berupa baku mulut antar-pejabat atau bahkan cuitan Presiden AS Donald Trump di miniblog Twitter, memanasnya hubungan kedua negara sempat membuat kebakaran minat investasi dari investor global.

Kisutnya minat investasi itu, atau yang biasa disebut mode risk-averse, membuat dana panas global semakin menjauh dari instrumen tinggi return sekaligus tinggi risiko seperti pasar surat utang negara (SUN) negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kedua kondisi global di atas, memang pastinya akan berdampak pada kondisi pasar surat utang di dalam negeri karena tanpa batasnya (borderless) pasar keuangan dunia sekarang ini sehingga investor dapat masuk dan keluar kapan saja ke pasar surat utang domestik.

Terlebih, saat ini porsi investor asing di pasar SUN domestik menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara tetangga di regional maupun negara berkembang, yang juga sudah tercermin dari tingginya yield pasar Indonesia dibanding yang lain.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Pada posisi terakhir yang dipublikasikan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu pada 26 Desember, terlihat investor asing menggenggam Rp 893,43 triliun SBN, atau 37,72% dari total beredar Rp 2.368 triliun.

Angka kepemilikannya masih negatif Rp 7,16 triliun dibanding posisi akhir November Rp 900,59 triliun, sehingga persentasenya masih turun dari 37,85% pada periode yang sama.

Angka 37,72% tersebut masih di atas beberapa negara jiran seperti Malaysia 23,4% pada Agustus 2018, Thailand 18,29% per November 2018, dan Korsel 12,02% pada akhir Juni 2018.

Relatif tingginya porsi kepemilikan asing membuat pasar SBN Indonesia masih sangat rentan terhadap gonjang-ganjing global dibanding negara lain.

Selain itu, kondisi makroekonomi Indonesia yang meskipun masih lebih baik daripada negara lain tetapi sudah membuat khawatir investor.



Selain ketergantungan dari investor asing, defisit neraca berjalan (termasuk neraca perdagangan), cadangan devisa (meskipun sudah naik pada medio Oktober-November), dan inflasi masih tetap menjadi momok yang harus tetap dijaga.

Posisi seluruhnya memang baru berada di ambang batas mengkhawatirkan, tetapi jika sampai kecolongan, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak investor asing yang meninggalkan pasar surat utang domestik dan membuat pasar terkoreksi signifikan dalam waktu pendek.

Bagaimana volatilitas pasar utang domestik tahun depan terhadap fenomena global dan domestik tahun depan? Mari kita renungkan bersama.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading