Risiko Utang RI Turun, Tapi Jangan Puas Dulu!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
16 December 2018 10:15
Risiko Utang RI Turun, Tapi Jangan Puas Dulu!
Jakarta, CNBC Indonesia - Risiko utang Indonesia terus menurun dalam sebulan terakhir. Kebijakan pengelolaan utang pemerintah sepertinya mendapat apresiasi dari pasar. 

Untuk mengukur risiko gagal bayar surat utang, indikator yang biasa digunakan adalah instrumen Credit Default Swap (CDS). CDS adalah semacam premi risiko yang dikenakan saat penerbitan instrumen utang.

Semakin tinggi CDS, pada dasarnya semakin besar kemungkinan untuk mengalami gagal bayar alias default. Kenaikan CDS mencerminkan ada kekhawatiran pasar terkait fundamental ekonomi sebuah negara atau kondisi fiskalnya.   
 


Pada 13 Desember, CDS Indonesia untuk tenor 5 tahun adalah 131,73 basis poin (bps). Sementara untuk tenor 10 tahun berada di 205,79 bps. CDS menyentuh posisi terendah sejak awal Oktober. 

 

Sepertinya penurunan CDS tidak lepas dari keputusan pemerintah yang membatalkan penerbitan obligasi di pasar perdana domestik. Pada 22 November lalu, pemerintah memutuskan untuk membatalkan empat lelang yang tersisa hingga akhir tahun.  


"Pembatalan rencana penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana tersebut diputuskan setelah mempertimbangkan outlook pemenuhan target pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018 yang bersumber dari lelang penerbitan SBN," sebut keterangan tertulis Kementerian Keuangan kala itu. 

Hingga akhir Oktober, realisasi penerimaan negara adalah Rp 1.483,86 triliun atau 78,32% dari target dalam APBN 2018. Namun pemerintah optimistis bahwa penerimaan negara pada akhir tahun mampu mencapai lebih dari 100%. 


Penghentian penerbitan obligasi tentunya membuat anggaran negara lebih sehat karena beban utang bisa dikurangi. Penerimaan negara yang melebihi target juga membuat investor yakin bahwa pemerintah tidak akan gagal bayar alias default. 

Fiskal yang lebih sehat dan kuat ini berujung pada apresiasi yang diberikan pelaku pasar. Hasilnya adalah CDS Indonesia bergerak turun. 

Dibandingkan dengan negara-negara sekelompok (peers), CDS Indonesia juga lebih baik. Per 13 Desember, CDS Rusia untuk tenor 5 tahun adalah 147,18 bps. Turki lebih parah lagi, mencapai 377,26 bps. Kemudian CDS 5 tahun Brasil ada di 196,61 bps dan Afrika Selatan di 220,69 bps. 

Jangan Puas Dulu

Meski begitu, Indonesia tidak bisa berpuas diri. Sebab, CDS Indonesia masih lebih tinggi ketimbang negara-negara tetangganya di Asia. 

Per 13 Desember, CDS tenor 5 tahun Malaysia adalah 105,41 bps dan untuk tenor 10 tahun berada di 162,66 bps. Kemudian CDS China untuk tenor 5 tahun berada jauh di bawah yaitu 64,58 bps dan 10 tahun di 111,29 bps. Lalu CDS Korea Selatan lebih mantap lagi yaitu 38,6 bps untuk tenor 5 tahun dan 10 tahun di 60,86 bps. 

Indonesia (dan negara-negara seperti Rusia, Turki, Brasil, dan Afrika Selatan) masih memiliki pekerjaan rumah besar bernama transaksi berjalan atau current account. Negara-negara ini memiliki transaksi berjalan yang defisit, menandakan aliran devisa dari ekspor-impor barang dan jasa yang seret cenderung tekor. 

Pada kuartal III-2018, transaksi berjalan Indonesia defisit 3,37% dari Produk Domestik Bruto. Sementara Turki minus 1,27% PDB, Brasil defisit 1,12% PDB, dan Afrika Selatan defisit 3,5% PDB. 

Akibatnya, nilai mata uang negara-negara tersebut cenderung melemah. Sejak awal tahun, rupiah melemah 6,4% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian lira Turki anjlok 29%, real Brasil terdepresiasi 14,9%, dan rand Afrika Selatan minus 12,8%. 

Depresiasi nilai tukar membuat beban pembayaran obligasi (terutama yang berdenominasi valas) meningkat. Ini tentu menyebabkan risiko gagal bayar juga ikut terdongkrak. 

Oleh karena itu, Indonesia tidak bisa berpuas diri meski CDS dalam tren turun. Sebab, ancaman pelemahan rupiah masih menghantui dan risiko default bisa naik kapan saja. 


TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading