Masalah Utang RI Bukan Jumlahnya tapi Strukturnya

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
07 December 2018 08:17
Masalah Utang RI Bukan Jumlahnya tapi Strukturnya Foto: infografis/Sang pemberi Pinjaman setia RI/Aristya Rahadian krisabella
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service menganggap risiko utang Indonesia sebenarnya bukan datang dari besaran jumlahnya.

Total utang pemerintah pusat hingga Oktober 2018 mencapai Rp 4.478,5 triliun, naik tipis dari realisasi September 2018 yakni Rp 4.416,3 triliun, menurut data yang dipublikasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negaara (APBN) KiTa periode Oktober 2018.



Utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp 833,9 triliun dan utang dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3.644,6 triliun.


Moody's mengatakan Indonesia, jika dibandingkan dengan negara-negara dengan peringkat utang Baa, menunjukkan demografi yang menguntungkan, serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang stabil dan sehat.

Anushka Shah, analis senior di Moody's Investor Service, menyatakan salah satu risiko ekonomi Indonesia adalah struktur utang pemerintahnya.

Seperti dijelaskannya, ekonomi Indonesia bergantung pada investasi asing, sehingga sekitar 40% dari utang pemerintah adalah dalam bentuk mata uang asing. Alasan lainnya adalah karena hampir 40% obligasi mata uang lokal dipegang oleh investor asing. Ini membuat Indonesia rentan terhadap risiko arus pembalikan modal dan pelemahan rupiah bila terjadi guncangan global.

Masalah Utang RI Bukan Jumlahnya tapi StrukturnyaFoto: Infografis/Utang RI/Arie Pratama
"Jadi, ketika Anda melihat utang pemerintah Indonesia, (jumlahnya) sangat sederhana karena kurang dari 30% dari PDB. Apa yang kami pikir telah mendorong volatilitas itu adalah struktur utangnya," jelasnya.

Namun, Shah juga mengatakan bahwa Indonesia akan cukup resilen dalam menghadapi tantangan ekonomi, tergantung pada bagaimana respons kebijakan yang diambil pemerintah, serta fundamental keuangan dan ekonominya.



Analis senior Moody's, Joy Rankothge, mengungkapkan hal senada.

"Indonesia fokus ke fundamental... Indonesia lebih baik dibandingkan Argentina, dan salah satu alasan yang membuat itu (lebih baik) adalah karena Indonesia memiliki defisit tapi telah menerapkan kebijakan yang benar yang telah pemerintah jalankan dalam beberapa tahun terakhir," terangnya.


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading