Saham NUSA Sudah Naik 210% & DEAL Melesat 280%, BEI ke Mana?

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
29 November 2018 14:25
Saham NUSA Sudah Naik 210% & DEAL Melesat 280%, BEI ke Mana?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga dua saham yang baru tahun ini tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergerak liar pada awal sesi II perdagangan hari ini.

Saham PT Sinergi Megah Internusa Tbk (NUSA) naik 22,63% ke level Rp 466/saham. Sejak IPO dan tercatat di bursa pada 12 Juli 2018 pada harga penawaran perdana Rp 150/saham, harga saham NUSA sudah naik 210,67%.

Benny Tjokro tercatat menjadi pemegang saham terbesar NUSA dengan kepemilikan 83,93%. Sementara publik tercatat memiliki 15,58%. Saat pencatatan saham perdana, perseroan menyampaikan rencana aksi korporasi dengan membangun vila di tanah seluas 20 hektar yang berlokasi di Batam, Kepulauan Riau.



Untuk mengembangkan lokasi tersebut, perusahaan akan menginvestasikan dana sebesar Rp 1,1 triliun yang sebagian berasal dari hasil penawaran umum.

Saat ini perusahaan memiliki satu hotel tipe boutique yang berlokasi di wilayah Yogyakarta, hotel tersebut memiliki 77 kamar. Saat ini tingat okupansi hotel tersebut sudah mencapai 52%.

Saham lainnya, adalah PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) yang naik 22,29% ke level Rp 565/saham. Perusahaan ini resmi melantai di BEI pada 9 November 2018.


Di pasar perdana atau saat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) seham perseroan dilepas pada harga Rp 150/saham. Artinya sejak hari pertama tercatat di Bursa harga saham DEAL sudah naik 280%.

Pada saat listing, manajemen perseroan menyampaikan tengah mempersiapkan diri untuk ikut serta dalam menggarap proyek logistik dan transportasi untuk minyak dan gas di negara tetangga, Brunei Darussalam.

Pengerjaan proyek ini akan dilakukan perusahaan bekerja sama dengan perusahaan milik pemerintah Brunei. Setelah Brunei, perusahaan juga berencana untuk menjajaki pasar di Malaysia dan Singapura untuk bisnis logistik dan transportasi.

Pergerakan kedua saham ini relatif tak wajar dan Bursa Efek Indonesia (BEI) belum memasukkannya dalam perdagangan saham tak wajar.

Padahal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memeriksa pihak-pihak yang berkaitan dengan proses penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dan transaksi sahamnya di pasar sekunder yang membuat harga saham naik signifikan. Lalu kenaikan harga saham terus berlangsung, hingga BEI menilai transaksi tersebut tak wajar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen, mengatakan pihak bursa telah terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kepada emiten-emiten dengan kenaikan harga saham signifikan dan melaporkannya ke OJK. Sebagai tindak lanjut, OJK akan melakukan pemeriksaan terkait kepastian laporan bursa tersebut. (hps/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading