Penjelasan Lengkap BI Soal Penguatan Rupiah ke Rp 14.535/US$

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
24 November 2018 07:59
Penjelasan Lengkap BI Soal Penguatan Rupiah ke Rp 14.535/US$
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi di Asia lawan dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat (23/11/2018). Rupiah pun menjadi yang terbaik di Asia.

Pada penutupan pasar kemarin, US$1 saat penutupan pasar spot setara dengan Rp 14.535. Rupiah menguat 0,27% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan pada perdagangan Jumat transaksi valas antar bank sangat aktif, dan lebih banyak yang melepas valas dari devisa hasil ekspor dan arus masuk modal portofolio asing. Pelepasan devisa oleh eksportir dan investor asing bahkan sempat membuat kurs Rupiah menyentuh level terkuat di Rp 14.505/US$.  


"Bank Indonesia terus memonitor penguatan kurs Rupiah dengan tetap mengedepankan terlebih dahulu mekanisme pasar yang efisien," ujar Nanang dalam pesan singkat, Jumat (23/11/2018).

Nanang menambahkan berlanjutannya penguatan rupiah di tengah sentimen di pasar keuangan global yang cenderung variatif menunjukkan investor global tetap memiliki pandangan positif terhadap kebijakan peningkatan suku bunga oleh Bank Indonesia, dan tidak adanya pasokan baru (new issuance) Surat Berharga Negara sampai akhir tahun dari Pemerintah.

Selama November 2018 tercatat arus modal asing yang masuk ke pasar sekunder SBN mencapai Rp 27,5 triliu, sehingga sejak awal September sampai dengan akhir November secara total mencapai Rp 47,4 triiun
 
"Dari sisi global, pasar saham merespon positif sinyal stance kebijakan moneter yang lebih lunak (dovish) dari beberapa pejabat the Fed, setelah sebelumnya mengkhawatirkan langkah the Fed yang terlalu cepat menaikkan suku bunga sehingga memicu pelepasan saham. Di Eropa, tercapai kesepakatan draft political declaration terkait future trade relationship antara Uni Eropa dan Inggris sehingga mendorong penguatan nilai tukar mata uang Euro dan Pound Sterling terhadap dolar AS," tambah Nanang,
 
Meski demikian, lanjut Nanang, pasar masih wewaspadai  dan cenderung bersikap sidelines menjelang pertemuan Presiden Trump dengan PM Xi Jinping pada G20 meeting di Argentina akhir bulan ini.

"Dari pasar saham regional Asia hari ini terjadi pelemahan yg cukup besar pada  pasar saham China yg mengalami sell-off (Shanghai Composite Index melemah  -2,49% & Shenzhen Composite Index melemah -3,66%) setelah adanya laporan The Wall Street Journal bahwa Pemerintah AS meminta negara sekutu dagangnya untuk mempersuasi perusahaan telekomunikasi di negara masing-masing agar menghindari menggunakan komponen dari China Huawei Technologies Co," jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading