Garuda Caplok Sriwijaya, Win-win Solution Industri Aviasi RI?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
15 November 2018 15:17
Garuda Caplok Sriwijaya, Win-win Solution Industri Aviasi RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham maskapai penerbangan pelat merah yakni PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melesat hingga sempat menyentuh 23% pada perdagangan hari ini ke level Rp 246/saham. Transaksi atas saham GIAA berlangsung sangat ramai. Hingga berita ini diturunkan, saham GIAA ditransaksikan sebanyak 75,3 juta unit, jauh mengalahkan rata-rata volume transaksi harian yang sebesar 2,9 juta unit.

Saham GIAA melesat pasca perusahaan melalui anak usahanya yakni PT Citilink Indonesia mengambil alih pengelolaan operasional Sriwijaya Air Group yang terdiri dari maskapai Sriwijaya Air dan NAM Air.

Rencana tersebut direalisasikan dalam bentuk Kerjasama Operasi (KSO) yang ditandatangani pihak Citilink dan Sriwijaya Air Group pada 9 November 2018. Nantinya, keseluruhan operasional Sriwijaya Group termasuk keuangannya akan berada di bawah pengelolaan dari KSO tersebut.



Kerjasama ini berpotensi membawa angin segar bagi GIAA yang saat ini sedang mencoba membalikkan performa keuangannya. Sepanjang 9 bulan pertama tahun ini, GIAA membukukan kerugian sebesar US$ 114,1 juta, jauh lebih kecil dibandingkan kerugian periode yang sama tahun 2017 sebesar US$ 222 juta.

Perlu diketahui, di Indonesia ada 5 pemain besar yang melayani rute penerbangan domestik yakni Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, dan Sriwijaya Air. Mengutip laporan keuangan GIAA tahun 2017, perusahaan menguasai PT Citilink Indonesia sebanyak 99%. Sementara itu, Batik Air merupakan anak usaha dari Lion Air.

Melansir data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, pangsa pasar Lion Air pada tahun 2017 adalah sebesar 34%, diikuti Garuda Indonesia (20%), Citilink (13%), Batik Air (10%), dan Sriwijaya Air (10%).


Mengerek tarif penerbangan

Aksi ambil alih Sriwijaya Air Group oleh Garuda Indonesia Group ini dapat berkembang menjadi sebuah win-win solution bagi industri penerbangan yang tengah tertekan kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group yang bersatu untuk mengendalikan 4 maskapai (Garuda, Citilink, Sriwijaya, NAM Air) kini memiliki jaringan penerbangan lebih luas yang menyasar segmen pasar lengkap dari low cost carrier hingga full service. Karena itu, Garuda dan Sriwijaya Group bisa saja menaikkan tarif tentunya diikuti dengan pelayanan yang lebih baik, misalnya menawarkan konektivitas penerbangan dan sebagainya. 

Di sisi lain, Lion Air Group (Lion Air, Batik Air, Wings Air) juga dapat ikut menaikkan tarif penerbangan, tentu jika melihat kompetitor menaikkan harga tiket. Bagi Lion Air dan Batik Air, menaikkan harga jual tiket menjadi sesuatu yang sangat mungkin dilakukan apalagi di saat menjelang musim liburan, dimana permintaan atas transportasi udara akan menjadi sangat tinggi.

Jika maskapai-maskapai itu menaikkan tarif, pangsa pasar kemungkinan tidak berubah, namun di sisi lain profitabilitas maskapai akan terkerek naik.  

Jadi, pengambilalihan operasional Sriwijaya Air oleh GIAA berpotensi menjadi win-win solution bagi keduanya, bahkan mungkin industri penerbangan nasional.

Yang jelas, profitabilitas dari Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group bisa dikerek naik. Respons investor atas saham GIAA menunjukkan bahwa mereka mengapresiasi potensi terkereknya profitabilitas perusahaan.




TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading