Investor Tak "Pede", Saham BUMI Diobral

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
09 November 2018 12:15
Investor Tak
Jakarta, CNBC Indonesia - Para investor tampaknya belum sepenuhnya yakin untuk memegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terlalu. Begitu ada sentimen negatif melanda pasar saham domestik, saham BUMI ikut diobral oleh investor.

Pada perdagangan sesi I, harga saham BUMI anjlok 4,21% ke harga Rp 182/saham. Volume perdagangan saham tercatat mencapai 484,55 juta saham senilai Rp 52,38 miliar.

Padahal pada perdagangan kemarin, saham BUMI tercatat melesat hingga 12,43% dari harga Rp 169/saham ke harga Rp 190/saham. Jika dicermati, dari awal tahun hingga hari ini, pergerakan harga saham BUMI cukup volatile dengan kecenderung koreksi.


Di awal tahun harga saham BUMI berada pada kisaran Rp 268/saham, lalu sempat melesat ke level harga Rp 356/saham. Nah, jika dihitung nilai koreksi dari awal tahun tercatat sudah mencapai 32,59%.


Dari sisi kinerja, sebenarnya belum ada perbaikkan kinerja yang signifikan. Dimana laba bersih tercatat turun 22,18% menjadi US$ 205,3 juta setara Rp 3,1 triliun (kurs Rp 15.000/US$) dari sebelumnya US$ 17,37 juta.

Semetara itu, dari sisi pendapatan terjadi peningkatan yang luar biasa 4.648,79% menjadi US$ 824,85 juta dari US$ 17,37 juta. Perbedaan signifikan pendapata ini, disebabkan pada 2017 pendapatan anak usaha BUMI, seperti Kaltim Prima Coal dan Arutmin tidak dikonsolidasikan, berdasarkan standar akuntasi.

Sementara itu, harga batu bara dunia berdasarkan bursa Newcastle berada pada kisaran US$ 105,45/ Metrik Ton (MT) pada penutupan perdagangan hari Rabu (7/11/2018). Harga tersebut meningkat dalam beberapa hari ini yang disebabkan musim dingin yang mulai melanda sejumlah kota besar di China. Ini masih meningkatnya impor China dan Jepang secara mingguan, hingga aura damai perang dagang AS-China.

Investor tampaknya belum terlalu percaya diri memegang saham BUMI, karena pernah trauma dengan kejadian 2008 saat sentimen krisis global melanda pasar domestik, saham BUMI merosot tajam dari level harga Rp 8.550/saham, lalu kemudian terus merosot hingga harga Rp 910/saham di akhir tahun.

Krisis utang yang melanda emiten ini membuat kinerja perseroan semakin memburuk dan harga saham terus merosot dan sempat menyetuh level harga Rp 50/saham atau harga terendah yang bisa diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Jika mengikuti tren permintaan batu bara tersebut, seharusnya investor masih optimistis dengan prospek saham batu baru. Namun karena pasar sedang dilanda kekhawatiran karena pernyataan The Fed yang menyatakan akan tetap menaikkan suku bunga acuan dan rilis defisit neraca pembayaran (current account defisit/CAD) yang akan disampaikan Bank Indonesia hari ini. (hps/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading