Makin Parah, Harga Batu Bara di Level Terendah Dalam 6 Bulan

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
02 November 2018 12:11
Makin Parah, Harga Batu Bara di Level Terendah Dalam 6 Bulan
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle kontrak acuan terkoreksi 2,23% ke level US$ 102,85/Metrik Ton (MT) pada penutupan perdagangan hari Kamis (1/11/2018).

Dengan pergerakan itu, harga si batu hitam membukukan pelemahan lima hari secara berturut-turut, dan masih betah di level terendahnya nyaris dalam 6 bulan terakhir, atau sejak pertengahan Mei 2018.

Melambatnya perekonomian Benua Kuning akibat perang dagang Amerika Serikat (AS)-China, plus meningkatnya stok batu bara di China, menjadi faktor utama pemberat harga si batu hitam.




Kemarin lusa, angka Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur periode Oktober tercatat 50,2, turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 50,8. Angka di atas 50 menandakan pelaku usaha masih optimistis, tetapi optimisme itu memudar.

Sepertinya China sudah mulai merasakan dampak signifikan dari perang dagang dengan AS. Maklum, AS adalah pasar ekspor utama China. Tahun lalu, nilai ekspor China ke AS tercatat US$ 431,7 miliar atau 19% dari total ekspor mereka.

Sebelumnya, pada kuartal-III 2018, perekonomian China tercatat tumbuh sebesar 6,5% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dari ekspektasi yang sebesar 6,6% YoY. Capaian ini merupakan yang terendah sejak 2009 silam.

Terlebih, dampak perlambatan ekonomi tersebut nampaknya mulai menular ke mitra dagang China, salah satunya Korea Selatan. Kemarin lusa, output industri manufaktur Negeri Ginseng juga diumumkan turun 2,5% pada September dibandingkan bulan sebelumnya. Jauh memburuk dibandingkan Agustus yang masih tumbuh 1,3%.

Sebelumnya, perekonomian Korea Selatan "hanya" tumbuh 2% YoY, di bawah konsensus yang sebesar 2,2%, pada kuartal III-2018.

Perdagangan dan aktivitas ekonomi yang melambat tentu akan menimbulkan persepsi bahwa permintaan terhadap energi akan tertekan. Kalau permintaan energi turun, maka harga batu bara juga pasti turun.

Sebagai tambahan, faktor negatif yang menekan harga si batu hitam adalah tingkat konsumsi batu bara Negeri Panda yang mengalami tren penurunan. Penyebabnya adalah permintaan pembangkit listrik yang melemah, dibuktikan oleh stok batu bara yang masih tinggi. Menurut data China Coal Resource, stok batu bara pada 6 pembangkit listrik utama China terus meningkat dalam 3 pekan terakhir, ke level tertingginya sejak Januari 2015.

Terlebih, konsumsi batu bara China di musim dingin nanti diperkirakan tidak akan sekencang perkiraan sebelumnya. Pasalnya, China's National Climate Center memroyeksikan bahwa musim dingin yang akan datang akan lebih hangat dari biasanya. Alasannya, ada potensi datangnya El Nino di musim dingin mendatang.

Sebelumnya, musim dingin yang lebih "menggigit" dari biasanya diperkirakan akan menyebabkan peningkatan konsumsi batu bara oleh sejumlah pembangkit listrik Negeri Panda. Namun, saat sekarang cuaca justru diperkirakan lebih hangat, persepsi itu menjadi tidak berlaku.

Sebagai informasi, China adalah konsumen utama batu bara dunia, mencapai 1.892,6 metrik ton pada 2017 atau 51% dari total permintaan dunia. Satu negara menguasai lebih dari separuh permintaan global, sehingga sentimen menurunnya permintaan impor dari China akan sangat memengaruhi harga.

(TIM RISET CNBC INDONESIA)  
(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading