Melemah 0,02%, IHSG Kembali Tak Mampu Manfaatkan Momentum

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
22 October 2018 12:49
Melemah 0,02%, IHSG Kembali Tak Mampu Manfaatkan Momentum
Jakarta, CNBC Indonesia - Lagi-lagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu memanfaatkan momentum. Hingga akhir sesi 1, IHSG terkoreksi tipis 0,02% ke level 5.836,24. Di sisi lain, bursa saham utama kawasan Asia justru kompak menghijau: indeks Nikkei naik 0,52%, indeks Shanghai meroket 4,17%, indeks Hang Seng menguat 2,4%, indeks Strait Times naik 0,33%, dan indeks Kospi naik 0,22%.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 2,55 triliun dengan volume sebanyak 4,66 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan adalah 167.346 kali.

Melesatnya bursa saham Benua Kuning dipimpin oleh penguatan indeks Shanghai yang belum terbendung pasca menguat sebesar 2,58% pada hari Jumat (19/10/2018). Lemahnya angka pertumbuhan ekonomi China terus saja direspon positif oleh pelaku pasar saham disana.


Pada kuartal-III 2018, perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,5% YoY, lebih rendah dari ekspektasi yang sebesar 6,6% YoY. Capaian ini merupakan yang terendah sejak 2009 silam. Lemahnya pertumbuhan ekonomi China mengindikasikan bahwa upaya otoritas untuk meredam timbunan utang, terutama yang termasuk dalam kategori shadow banking, telah membuahkan hasil.

Shadow banking merupakan aktivitas penghimpunan dan penyaluran dana pihak ketiga seperti layaknya bank konvensional. Namun, berbeda dengan aktivitas perbankan konvensional, aktivitas shadow banking mendapatkan pengawasan yang lebih rendah dan cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi.

Permasalahan shadow banking di China merupakan salah satu risiko yang bisa membawa perekonomian dunia ke dalam jurang krisis. Moody's melaporkan bahwa nilai shadow banking di China per semester-I 2017 adalah sebesar US$ 9,72 triliun. Jika dikonversi dengan menggunakan kurs Rp 15.000/dolar AS, nilainya adalah sebesar Rp 145.800 triliun.

Selain itu, 3 tokoh penting di pasar keuangan China yakni Gubernur People's Bank of China, Gubernur China Securities Regulatory Commission Liu Shiyu, dan Gubernur China Banking and Insurance Regulatory Commission kompak menyuarakan dukungannya bagi pasar saham.

Beberapa langkah tercatat diambil oleh mereka guna mendukung kinerja pasar saham domestik, salah satunya dengan merilis rancangan regulasi yang memperbolehkan anak usaha bank yang berbentuk wealth management untuk secara langsung berinvestasi ke pasar saham.

Dari dalam negeri, saham-saham sektor jasa keuangan (-0,38%) kembali menjadi momok bagi IHSG. Positifnya rilis kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang tak juga direspon positif memberikan tekanan kepada indeks saham dalam negeri. Pada penutupan perdagangan sesi 1, harga saham BMRI ditutup melemah 0,39% ke level Rp 6.425/saham. Harga saham BMRI bahkan sempat melemah ke level Rp 6.375/saham.

Sepanjang kuartal-III 2018, bank pimpinan Kartika Wirjoatmodjo ini membukukan pendapatan bunga bersi/net interest income (NIM) sebesar Rp 13,9 triliun, mengalahkan konsensus yang dihimpun Reuters sebesar Rp 13,6 triliun. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp 5,9 triliun, di atas estimasi yang sebesar Rp 5,3 triliun.

Sejumlah indikator pun menunjukkan perbaikan pada 9 bulan pertama tahun ini jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Return oneEquity (ROE) melejit 135 bps menjadi 14,1%, dari yang sebelumnya 12,8%, sementara non-performing loan (NPL) turun 74 bps menjadi 3%, dari yang sebelumnya 3,8%. Terakhir, penyaluran kredit melesat 13,8% YoY sepanjang 9 bulan pertama tahun ini, jauh membaik dibandingkan capaian tahun 2017 yang sebesar 9,8% YoY saja.

Ada kemungkinan, kenaikan harga saham BMRI yang sangat pesat tahun lalu membuat valuasinya berada di level yang relatif tinggi sehingga walaupun kinerja keuangannya positif, sahamnya tak menjadi buruan investor. Sepanjang tahun lalu, harga saham BMRI sudah meroket 38,2%.

Jika berdasarkan price-earnings ratio (PER), valuasi saham BMRI memang tak bisa dikatakan murah. Mengutip RTI, price-earnings ratio (PER) dari saham BMRI adalah sebesar 12,43x. Tercatat, 2 bank BUKU IV lainnya yakni BBNI dan BNGA memiliki PER yang lebih rendah, masing-masing sebesar 8,77x dan 6,28x. Sementara itu, 2 bank BUKU IV yang relatif lebih mahal dari BMRI adalah BBRI (12,66x) dan BBCA (25,13x).

Selain itu, bank BUKU IV lainnya yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) justru membukukan kinerja yang mengecewakan. Sepanjang kuartal-III 2018, BBNI membukukan NIM sebesar Rp 8,6 triliun, di bawah konsensus yang dihimpun Reuters sebesar Rp 9,3 triliun. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp 4 triliun, di bawah estimasi yang sebesar Rp 4,4 triliun. Harga saham BBNI stagnan hingga akhir sesi 1 di level Rp 7.175/saham.

Hingga akhir sesi 1, investor asing membukukan jual bersih senilai Rp 58,5 miliar di pasar saham tanah air. 5 besar saham yang paling banyak dilepas investor asing adalah: PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (Rp 52,5 miliar), PT Matahari Department Store Tbk/LPPF (Rp 22,9 miliar), PT United Tractors Tbk/UNTR (Rp 19,9 miliar), PT Unilever Indonesia Tbk/UNVR (Rp 10,9 miliar), dan PT Surya Citra Media Tbk/SCMA (Rp 9,8 miliar).


TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]




(ank/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading