Update Polling CNBC Indonesia

Konsensus: Neraca Perdagangan September Defisit US$ 600 Juta

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
12 October 2018 11:52
  • Menambah proyeksi dari satu institusi (Mandiri Sekuritas).

Jakarta, CNBC Indonesia -
Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih mengalami defisit pada September 2018. Namun setidaknya defisit perdagangan membaik dibandingkan Juli dan Agustus.


Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data perdagangan internasional pada awal pekan depan. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekspor pada September sebesar 7,44% year-on-year (YoY), impor tumbuh 25,85% YoY, dan neraca perdagangan defisit US$ 600 juta.

InstitusiPertumbuhan Ekspor (% YoY)Pertumbuhan Impor (% YoY)Neraca Perdagangan (US$ Juta)
ING2.912.3-1,022.40
Danareksa Research Institute7.0723.67-216.4
CIMB Niaga--680
Bahana Sekuritas9.834.5-1,200
Maybank Indonesia6.926.15-558
ANZ10.232.7-922
Moody's Analytics---830
Bank Permata7.4425.85-442
Trimegah Sekuritas7.7134.14-1,400
Samuel Sekuritas---500
Bank Danamon921-444
Mandiri Sekuritas4.223.8-642
MEDIAN7.4425.85-600

Pada Juli, BPS mencatat defisit perdagangan mencapai US$ 2,03 miliar atau terdalam sejak Juli 2013. Catatan itu membaik pada bulan selanjutnya, meski masih defisit cukup dalam yaitu US$ 1,02 miliar. 

 

Putera Satria Sambijantoro, Ekonom Bahana Sekuritas, menyatakan neraca perdagangan Indonesia sangat terbeban oleh dua hal yaitu depresiasi rupiah dan kenaikan harga minyak. Sepanjang September, rupiah melemah 0,64% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara point-to-point. Sedangkan harga minyak jenis brent dalam periode yang sama melesat 8,34%.
 

Kombinasi duet maut ini membuat impor migas menjadi semakin mahal. Pasalnya, neraca migas ini yang jadi biang keladi defisit neraca perdagangan. 


Sepanjang Januari-Agustus, neraca perdagangan Indonesia mendalami defisit US$ 4,09 miliar. Neraca non-migas masih surplus US$ 4,27 miliar, tetapi neraca migas tekor US$ 8,35 miliar. 

Defisit neraca migas Januari-Agustus 2018 membengkak 54,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyebabnya adalah depresiasi rupiah dan lonjakan harga si emas hitam. Padahal mungkin jumlah yang diimpor tidak bertambah, tetapi nilainya membengkak. 

"Pemerintah memang sudah menahan impor untuk bahan baku sehingga surplus neraca non-migas kemungkinan bertambah. Namun masalahnya ada di neraca migas," tegas Satria. 

Katrina Ell, Ekonom Moody's Analytics, menilai tekanan di defisit neraca migas memang masih cukup tinggi. Akan tetapi ada sedikit kelegaan pada September, karena pemerintah telah mengeksekusi program pencampuran bahan bakar nabati untuk minyak diesel/solar (B20). Kebijakan ini dinilai berhasil meredam impor solar sehingga mengurangi tekanan di neraca migas. 

"Pemerintah telah mengambil langkah sejak awal September untuk mengurangi impor migas, termasuk dengan penggunaan biodiesel. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk mengurangi impor bahan baku dan barang modal untuk proyek-proyek yang tidak prioritas," jelas Ell. 

(aji/aji)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading