Permintaan China Menipis, Harga Batu Bara Terendah Sejak Juni

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
09 October 2018 12:55
Harga batu bara kini terperosok ke level terendahnya dalam 4 bulan terakhir, atau sejak 1 Juni 2018.
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle kontrak acuan terkoreksi tipis 0,79% pada penutupan perdagangan hari Senin (8/10/2018) ke level US$112,75/Metrik Ton (MT).

Dengan pergerakan itu, harga batu bara sudah melemah selama 5 hari berturut-turut, dan kini terperosok ke level terendahnya dalam 4 bulan terakhir, atau sejak 1 Juni 2018.




Sejumlah sentimen negatif memang masih membayangi pergerakan harga batu bara, utamanya dari menipisnya permintaan dari China sebagai importir batu bara terbesar dunia.

Mengutip data dari Biro Statistik Australia, volume eskpor batu bara termal made in Australia ke China tercatat menurun sebesar 32,4% secara bulanan (month-to-month/MtM) ke angka 3 juta MT pada bulan Agustus. Pelemahan itu menjadi yang kedua kalinya berturut-turut setelah pada Juli juga tercatat anjlok 30% MtM.

Menipisnya permintaan memang wajar terjadi karena puncak musim panas di Bumi Belahan Utara (BBU) sudah terlewati. Sebelumnya, akibat musim panas yang lebih panas dari biasanya, permintaan batu bara China meningkat demi memenuhi kebutuhan pembangkit listrik. Pasalnya, diperlukan listrik dalam jumlah banyak untuk menyalakan mesin pendingin ruangan.

Selain itu, memasuki bulan September, pemerintah China juga menerapkan kebijakan pembatasan impor dalam rangka menggenjot produksi batu bara domestik. Hal ini semakin menekan importase batu bara Negeri Panda.

Persepsi penurunan permintaan ke depan juga muncul akibat data ekonomi China yang mengecewakan. Indeks manufaktur PMI China edisi September 2018 jatuh ke angka 50,8. Level itu merupakan yang terendah dalam 7 bulan terakhir, atau jauh di bawah konsensus Reuters yang memperkirakan 51,2.

Perlambatan indeks manufaktur di Negeri Panda tidak lepas dari pemesanan barang ekspor yang melambat ke angka 48 pada September, dari sebelumnya 49,4 pada Agustus. Dengan capaian itu, pemesanan barang ekspor sudah terkontraksi selama 4 bulan berturut-turut.

Data-data ini semakin mengonfirmasi bahwa perang dagang AS vs China telah mendinginkan perekonomian Negeri Tirai Bambu. Akibatnya, permintaan energi (termasuk batu bara) pun dipastikan terpukul.

Selain dari dataran China, sentimen pelemahan harga batu bara juga datang dari perkasanya dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback terhadap 6 mata uang utama dunia) menguat 0,14%. Dalam sepekan terakhir, indeks ini malah naik hingga 0,52%.

Dolar AS memang sedang seksi dan menjadi aset utama buruan investor dunia. Pada 26 September lalu, The Federal Reserve/The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 2-2,25% atau median 2,125%. 

Tidak hanya itu, The Fed pun menargetkan suku bunga acuan berada di kisaran median 2,4% pada akhir 2018. Oleh karena itu, kemungkinan besar akan ada kenaikan sekali lagi yang hampir pasti dieksekusi pada Desember.

Penguatan dolar AS akan membuat harga batu bara menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang selain greenback. Akibatnya, muncul sentimen penurunan permintaan salah satu komoditas energi utama dunia tersebut. 

(TIM RISET CNBC INDONESIA)

(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading