Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukarÂ
rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Kondisi ini seiring rilis data-data ekonomi Negeri Paman Sam yang ciamik serta proyeksi defisit transaksi berjalan di kuartal III-2018.
Pada Jumat (5/10/2018) pukul 16:00 WIB, US$ 1 ditutup pada level Rp 15.175 di pasar spot. Rupiah melemah 0,07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.Â
Sementara itu, pergerakan mata uang di negara kawasan bergerak variatif. Berikut data perdagangan sejumlah mata uang Asia di hadapan
greenback hingga pukul 16:32 WIB, seperti yang dikutip dari Reuters:
| Mata Uang | Bid Terakhir | Perubahan (%) |
| Yen Jepang | 113.87 | 0,03 |
| Yuan China | 6.86 | 0,29 |
| Won Korsel | 1,128.50 | 0,35 |
| Dolar Taiwan | 30.90 | (0,16) |
| Rupee India | 74.04 | (0,57) |
| Dolar Singapura | 1.38 | (0,07) |
| Ringgit Malaysia | 4.14 | 0,02 |
| Bath Thailand | 32.85 | (0,37) |
| Peso Filipina | 54.25 | (0,06) |
(NEXT)
Keperkasaan dolar AS hari ini ditunjang rilis data ekonomi Negeri Paman Sam yang bagus. US Census Bureau melaporkan, pemesanan terhadap barang-barang buatan AS pada Agustus naik 2,3% dibandingkan bulan sebelumnya. Ini merupakan kenaikan bulanan tertinggi sejak September 2017.
Â
Kemudian, jumlah klaim tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 29 September turun 8.000 ke 207.000. Lebih baik dibandingkan konsensus yang dihimpun Reuters, yaitu jumlah klaim sebanyak 213.000.
Â
Belum lagi angka pengangguran yang akan dirilis malam ini waktu Indonesia, yang juga diperkirakan membaik. Konsensus Reuters memperkirakan angka pengangguran September di 3,8%, turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 3,9%. Data-data ekonomi ini memberi keyakinan bahwa The Federal Reserve/The Fed tetap akan di jalur menaikkan suku bunga acuan secara bertahap.
Â
Mengutip CME Fedwatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 bps pada rapat 19 Desember mencapai 80,1%. Kondisi ini tentu jadi angin segar bagi penguatan greenback karena aliran dana asing cenderung memilih pulang kampung ke AS.
Â
Â
Tekanan lain datang dari proyeksi defisit CAD di kuartal III tahun 2018. Pada periode tersebut, kemungkinan besar defisit transaksi berjalan tetap cukup dalam seperti kuartal sebelumnya yang mencapai 3,04% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Â
Seiring defisit neraca perdagangan di Juli dan Agustus 2018 yang masing-masing sebesar US$ 2,03 miliar dan US$1,02 miliar. Pada September ini, diperkirakan tekanan terhadap neraca perdagangan datang dari tingginya harga minyak dunia.
Â
Sepanjang September, harga minyak jenis brent melonjak 8,74% secara point-to-point. Ini tentu memberatkan neraca perdagangan Indonesia, negara yang berstatus sebagai net importir minyak.
Â
Neraca perdagangan yang defisit akan mempengaruhi transaksi berjalan. Hasilnya, rupiah berpotensi tertekan karena minimnya sokongan devisa dari ekspor-impor barang dan jasa. Faktor ini yang membuat investor cemas, sehingga rupiah terkena imbasnya. Di akhir pekan ini, rupiah pun ditutup melemah.
Â
Â