Jelang Musim Dingin, Harga Batu Bara Naik Tipis Pekan Lalu

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
01 October 2018 15:52
Harga batu bara membukukan kenaikan 0,35% secara point-to-point di sepanjang pekan lalu, ditutup di level US$113,85/Metrik Ton
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle kontrak acuan tercatat menguat 0,13% ke level US$113,85/Metrik Ton (MT) pada penutupan perdagangan hari Jumat (28/9/2018). Dengan pergerakan itu, harga si batu hitam membukukan kenaikan 0,35% secara point-to-point di sepanjang pekan lalu.

Faktor yang mampu menopang harga batu bara adalah turunnya cadangan batu bara di sejumlah pembangkit listrik di China, serta naiknya volume impor sejumlah negara konsumen batu bara menjelang musim dingin.

Sementara, sentimen negatif datang dari usaha dari China Railway Corporation, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China yang bergerak di bidang perkeretaapian, untuk memperbaiki rantai pasokan batu bara domestik. Selain itu, masih panasnya perang dagang AS-China juga masih menjadi pemberat harga batu bara.




Mengutip data teranyar dari China Coal Resource, cadangan batu bara di 6 pembangkit listrik utama China turun sebesar 3,7% WtW ke 14,83 juta ton, per hari Jumat (21/9/2018). Penurunan sebesar itu merupakan yang terbesar sejak akhir April 2018.

Berlangsungnya inspeksi lingkungan di sejumlah sentra produksi tambang di Negeri Tirai Bambu nampaknya masih membatasi produksi batu bara domestik. Berkurangnya pasokan tersebut lantas memaksa Negeri Panda untuk membuka keran impor batu bara.

Impor batu bara China tercatat menanjak 0,13 juta ton secara mingguan (week-to-week/WtW) ke level 3,83 juta ton dalam sepekan hingga tanggal 21 September 2018, mengutip data dari Global Ports.

Namun, tidak hanya Beijing yang meningkatkan pembelian batu bara, sejumlah negara konsumen batu bara juga membukukan peningkatan impor batu bara pada pekan lalu. Impor Jepang melambung 2 juta ton lebih secara WtW ke 3,56 juta ton.

Sementara impor Korea Selatan dan India juga meningkat masing-masing 0,42 juta ton dan 0,73 juta ton secara mingguan, pada pekan lalu. Permintaan yang tinggi dari negara-negara importir batu bara utama dunia ini lantas mampu menopang harga batu bara kemarin.

Negara-negara konsumen batu bara (khususnya di Belahan Bumi Utara) nampaknya mulai memenuhi stok batu bara dalam negeri untuk menghadapi musim dingin yang akan datang. Terlebih, suhu pada musim dingin mendatang diekspektasikan akan lebih dingin dari biasanya.

Sayangnya, harga batu bara tidak bisa menguat banyak-banyak di pekan lalu. Pasalnya, China Railway Corporation dikabarkan sedang melakukan persiapan untuk memastikan pengiriman batu bara yang stabil selama perawatan jalur kereta Daqin.

China Railway kini meminta pihak pelabuhan untuk memastikan proses bongkar pasang kargo batu bara berjalan tepat waktu. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak terjadinya bottlenecking selama masa perawatan jalur kereta berlangsung.

Sentimen lancarnya jalur pasokan batu bara domestik di China lantas menjadi pemberat bagi harga batu bara sepekan lalu. Pasalnya, jika pasokan batu bara dalam negeri lancar, kemungkinan besar stok China akan membaik. Ujung-ujungnya permintaan impor pun dikurangi. 

Faktor negatif lainnya datang dari perang dagang Washington-Beijing. Pada 24 September, AS resmi mengenakan bea masuk 10% terhadap impor produk China dengan nilai total US$ 200 miliar. China pun membalas dengan pembebanan bea masuk 10% bagi impor produk AS senilai US$ 60 miliar, juga berlaku 24 September.

Pelaku pasar pun dibuat panik. Perang dagang AS vs China dikhawatirkan terus berlangsung tanpa upaya penyelesaian yang nyata.

Jika perang dagang terus berkobar, maka pertumbuhan ekonomi global dipertaruhkan. AS dan China adalah dua perekonomian terbesar di bumi, sehingga ketika mereka saling hambat maka akan mengganggu rantai pasok global (global supply chain). 

Alhasil, hal tersebut akan menjadi sentimen bahwa permintaan energi (termasuk batu bara) akan tertekan. Persepsi ini lantas ditransmisikan pada pelemahan harga batu bara.

(TIM RISET CNBC INDONESIA)



(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading