Mau Investasi Tumbuh 7%? Rupiah Harus di Bawah Rp 15.000/US$

Market - Samuel Pablo, CNBC Indonesia
25 September 2018 15:01
Mau Investasi Tumbuh 7%? Rupiah Harus di Bawah Rp 15.000/US$
Jakarta, CNBC Indonesia - Plt Deputi Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Wisnu Wijaya Soedibjo memaparkan beberapa hal yang harus dipenuhi bila pemerintah mau mencapai target pertumbuhan investasi sebesar 7% seperti tercantum dalam RAPBN 2019.

Pertama, kondisi perekonomian makro dunia harus membaik. Kedua, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS harus di bawah Rp 15.000/US$.

Wisnu menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dari kisaran Rp 13.800 - 14.000/US$ hingga hampir menyentuh Rp 15.000/US$ seperti saat ini memang menguntungkan sebagian pelaku usaha, terutama eksportir.



Kendati demikian, pelemahan kurs rupiah dalam waktu yang lama tentu akan merugikan eksportir karena sebagian dari bahan bakunya, baik itu 5%, 10%, maupun hingga 90% masih diimpor.

Wisnu menyebut industri kimia, farmasi, dan elektronika sebagai industri yang paling terdampak pelemahan rupiah yang berkepanjangan. "Jadi memang tidak boleh melemah terlalu lama. Kan Bank Indonesia juga begitu, tidak ingin kurs itu melonjak terlalu tinggi ke atas atau terlalu ke bawah. Jadi rupiah tetap ada resilience-nya," jelas Wisnu.

Ketiga, kebijakan perekonomian yang telah ditetapkan pemerintah pusat juga harus dijalankan oleh pemerintah daerah dengan lebih terintegrasi.

Untuk diketahui, BKPM merilis realisasi investasi pada triwulan II-2018. Sayangnya, data menunjukkan hal yang kurang menggembirakan.

Investasi asing alias Penanaman Modal Asing (PMA)/Foreign Direct Investment (FDI) anjlok hingga 12,9% dibandingkan periode yang sama di 2017.

Sementara pertumbuhan investasi modal dalam negeri atau PMDN mencapai 32,1%. Kedua angka tersebut membuat total pertumbuhan investasi triwulan II-2018 hanya 3,1%.


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading