Rupiah Sepekan: Dari Neraca Dagang ke Crazy Rich Surabayan

Market - Alfado Agustio, CNBC Indonesia
22 September 2018 06:56
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah sepanjang perdagangan sepekan ini
Setelah dihantam sentimen buruk dari dalam negeri, rupiah kembali diuji oleh sentimen dari global. Memanasnya tensi antara AS dan China terkait penetapan bea impor menjadi biang keroknya. Presiden AS Donald Trump pada Senin malam (17/9/2018) waktu setempat atau Selasa dini hari (18/9/2018) waktu Indonesia, mengumumkan akan mengenakan bea masuk baru bagi produk impor China sebesar 10% atau senilai US$ 200 miliar. Kebijakan tersebut rencana efektif berlaku mulai 24 September mendatang.

Sontak kebijakan tersebut mengejutkan berbagai pihak. Pasalnya pada pekan sebelumnya, AS telah mengundang China untuk bertemu guna membicarakan masalah perang dagang yang ada.

Namun, keputusan Trump yang mengenakan bea impor baru seketika menghilangkan harapan perdamaian yang ada. Terlebih keesokan harinya, China ikut mengenakan tarif balasan sebesar US$ 60 miliar dan efektif pada periode yang sama.


Aksi saling balas ini sontak membuat pasar khawatir. Investor cenderung mengalihkan investasinya dari instrumen beresiko seperti saham di emerging market ke instrumen investasi yang minim resiko (safe haven) seperti Emas. Sepanjang pekan ini, harga komoditas tersebut naik hingga 1,21% ke level US$ 1.207,70/Try ounce. Di sisi lain, hal ini menyebabkan rupiah berada bertahan di posisi Rp 14.870/US$ hingga 19 September 2018.
Aksi Nasionalisme Hingga Meredanya Perang Dagang Tak Cukup Tolong Rupiah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading