Kelola BPJS Kesehatan, RI Harus Berguru Pada Malaysia

Market - alfado agustio, CNBC Indonesia
14 September 2018 20:38
Kelola BPJS Kesehatan, RI Harus Berguru Pada Malaysia
Jakarta, CNBC Indonesia- Buruknya kinerja keuangan Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan, memaksa pemerintah turun tangan lagi. Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 113/PMK.02/2018 tentang tata cara penyediaan, pencairan, dan pertanggungjawaban dana cadangan program JKN, pemerintah berencana memberikan bailout guna menyelamatkan operasional institusi tersebut. 

Berdasarkan laporan keuangan 2017, BPJS mengalami defisit hingga Rp 6,74 triliun. Angka ini didapat dari selisih besaran iuran yang didapat dengan jumlah klaim. Defisit ini merupakan yang tertinggi sejak beroperasinya institusi tersebut di 2014. 

TahunIuranKlaimSelisih
201439,6341,28-1,65
201551,4256,3-4,9
201667,2667,250,01
201774,3981,316,74
*dalam triliun rupiah


Rendahnya kepatuhan masyarakat dalam membayar iuran cukup tinggi. Menurut Direktur Kepesertaan dan Pemasaran BPJS Kesehatan Andayani Budi Lestari di Kantor Pusat BPJS Kesehatan seperti yang dikutip dari CNN.com, ada 12 juga peserta yang menunggak pembayaran atau sekitar 6% dari total peserta yang mencapai 172 juta jiwa. 

Tidak hanya permasalahan iuran, meningkatnya biaya operasional bisa menjadi penyebab lainnya. Dalam laporan keuangan tersebut, biaya operasional meningkat dari Rp 3,6 Triliun di 2016, membengkak ke Rp 3,8 Triliun atau Rp 200 miliar. Kondisi ini semakin menyulitkan BPJS untuk lepas dari jeratan defisit. lalu bagaimana dengan negara tetangga? apakah masyarakat di sana jauh lebih sehat atau sebaliknya.

Tingkat Kesadaran Kesehatan Penduduk Malaysia Cukup Tinggi

Di negeri Jiran, pengelolaan jaminan kesehatan cukup baik. Dengan Program 1 Care for 1Malaysia, pemerintah setempat berusaha menyediakan pelayanan kesehatan tanpa terkecuali.
 Pemerintah Malaysia sendiri menyisihkan 5% dari anggaran yang ada untuk mengembangkan jaminan sosial. Indonesia sebenarnya telah menerapkan kebijakan yang sama? Lantas dimana perbedaannya? 

Di Malaysia, tingkat kepedulian terhadap kesehatan lebih unggul dari Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari angka harapan hidup kedua negara. Di Negeri Jiran, angka harapan hidup tahun 2017 rata-rata sebesar 73,8 tahun. Sementara Indonesia masih 71,1 tahun.  Tingginya harapan hidup mencerminkan masyarakat Malaysia jauh lebih peduli terhadap kesehatan, sehingga anggaran kesehatan yang dikeluarkan bisa lebih kecil. Hal ini membantu neraca keuangan pemerintah setempat bisa lebih sehat. 

Sementara Indonesia, perilaku hidup sehat masih sangat kurang. Data laporan 2017 memperlihatkan, penyakit utamanya penyakit berat seperti Diabetes, Hipertensi hingga jantung paling banyak yang dilakukan rujuk ke rumah sakit.



Misalnya dari penyakit Diabetes, penelitian yang dilakukan Dedi Hartanto dari STIKES Muhammadiyah Banjarmasin tahun 2017, biaya yang diperlukan sehari mencapai Rp 500 ribu per bulan. Artinya jika perawatan selama setahun mencapai Rp 6 juta.

Itu baru penyakit diabetes, belum penyakit yang lain.
 Kondisi ini menjadi cerminan penting bagi pemerintah bagaimana mensosialisasikan masyarakat untuk hidup sehat. Kampanye secara berkelanjutan mulai dari peduli sarapan, jalan kaki 10 ribu langkah setiap hari hingga mengurangi ketergantungan terhadap rokok bisa menjadi pilihan untuk mendorong kesadaran gaya hidup sehat masyarakat.

       
(alf/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading