Internasional

BNP Paribas Janji Tidak Akan Keluar dari Turki

Market - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
14 September 2018 18:15
Manajemen BNP Paribas menganggap Turki merupakan negara luar biasa dengan ekonomi yang luar biasa.
Jakarta, CNBC Indonesia - Meski ekonomi Turki dirundung masalah dan menyebabkan lira, mata uangnya, melemah secara dramastis, negara itu masih menjadi pasar yang "luar biasa" bagi BNP Paribas. Sehingga, bank asal Perancis itu tidak berniat untuk keluar dari Turki, kata Direktur bank pada hari Jumat (14/9/2018).

"Turki adalah negara luar biasa, itu adalah ekonomi yang luar biasa," kata Jean Lemierre, Direktur BNP Paribas, kepada CNBC International di sela-sela pertemuan tahunan Singapore Summit.

"Kita harus menenangkan semua komentar-komentar ini. Turki itu luar biasa. Mereka menghadapi kesulitan, saya harap dan saya yakin mereka tahu cara menghadapi kesulitan," katanya.


Jawaban tersebut adalah respons dari pertanyaan tentang apakah bank akan mempertimbangkan untuk keluar dari Turki karena tantangan-tantangan yang dihadapi negara itu tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

BNP Paribas menjadi salah satu bank yang sangat terpapar di Turki, di antara bank-bank Eropa lainnya, menurut Reuters. Secara khusus, Reuters mengutip satu investasi yaitu bank asal Prancis itu mengendalikan 72% Economy Bank of Turkey, sebagian lewat usaha patungan lokal.

Masalah Turki muncul bulan lalu ketika lira terdepresiasi dengan tajam. Bank sentral negara itu pada hari Kamis (13/9/2018) menaikkan suku bunga sebanyak 6,25 pesen poin menjadi 24% guna menopang nilai tukar lira. Menurut Lemierre, tindakan itu adalah hal yang tepat.

"Mereka sudah mengambil keputusan yang tegas, serius dan sangat penting," katanya. "Turki harus bereaksi, dan mereka sudah bereaksi. Menurut saya mereka sudah mengambil langkah yang tepat waktu ketika nilai tukar mata uang melemah dan melemah."

Masalah di Turki sudah memperparah kekhawatiran bahwa krisis ekonomi di negara itu bisa menyebar ke pasar negara berkembang lainnya. Hal itu bisa terjadi ketika investor semakin menyukai aset-aset AS karena dolar yang kuat.

Rubel Rusia dan rand Afrika Selatan adalah dua mata uang yang paling lemah di antara mata uang negara berkembang lainnya. Sejauh ini, kedua mata uang itu terdepresiasi mendekati 20% terhadap dolar AS tahun ini.

Di Asia, nilai tukar rupee India dan rupiah anjlok masing-masing anjlok 12% dan 9% terhadap dolar.

Namun di samping "ketegangan" di negara-negara seperti Turki, Lemierre mengatakan banyak negara-negara berkembang yang kuat.

"Saya tidak percaya bahwa kita melihat atau menghadapi krisis negara berkembang. Ada ketegangan di beberapa negara, kita tahu mereka: Turki, Argentina. Terdapat ketegangan di beberapa negara, tetapi ini bukanlah krisis yang luar biasa, khususnya di Asia - saya tidak melihat kesulitan spesifik di Asia," katanya.


(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading