Arab Saudi Ngotot Harga Minyak US$70-US$80, Ini Alasannya

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
05 September 2018 19:27
Arab Saudi ingin mempertahankan harga minyak mentah bertahan pada kisaran US$70-US$80
Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi punya kepetingan untuk mempertahankan harga minyak tetap di kisaran US$70 sampai US$80 per barel. Alasannya, negara yang merupakan eksportir minyak mentah terbesar di dunia ini, sedang berupaya untuk menyeimbangkan antara pendapatan dan menjaga harga hingga pemilihan kongres Amerika Serikat, menurut pejabat OPEC dan sumber industri.

Setelah mengumumkan rencana listing Saudi Aramco pada tahun 2016, kerajaan mulai mendorong kenaikan harga minyak untuk membantu memaksimalkan valuasi perusahaan minyak negara itu pada saat penawaran umum perdana (IPO), yang semula dijadwalkan pada 2018.
Namun rencana itu berubah, setalah pada April Presiden AS Donald Trump memberi tekanan kepada Riyadh untuk mempertahankan harga minyak mentah. Trump ingin menyetop peningkatan bahan bakar AS menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November mendatan, seperti yang dilansir CNBC International.

Meskipun rencana IPO telah ditangguhkan, Arab Saudi masih ingin menjaga harga minyak setinggi mungkin tanpa menyinggung Washington, kata sumber tersebut. Saudi membutuhkan uang tunai untuk membiayai serangkaian proyek pembangunan.

OPEC dan Arab Saudi tidak memiliki target harga resmi dan tidak mungkin menetapkan satu harga secara resmi.


"Saudi ingin harga minyak di sekitaran US$80 dan mereka tidak ingin harga turun di bawah US$70. Mereka ingin mengelola pasar seperti ini," kata salah satu sumber kepada Reuters.

"Mereka membutuhkan uang tunai. Mereka memiliki rencana dan reformasi dan sekarang IPO ditunda. Tetapi mereka tidak ingin orang lain berbicara tentang harga minyak sekarang. Ini semua karena Trump," kata sumber itu.

Target informal dari US$70 hingga US$80 meningkatkan prospek Arab Saudi dalam membuat kebimbangan rutin terhadap outputnya sehingga mempengaruhi biaya minyak mentah karena pasar merespon faktor-faktor lain yang mempengaruhi penawaran dan permintaan global.

Satu sumber industri mengatakan hal itu mungkin telah dilakukan tepat minggu lalu. Saat Brent menuju US$80 per barel, Arab Saudi mengatakan kepada pasar tentang peningkatan produksi bulan lalu bahwa negara akan merilis informasi tersebut lebih cepat daripada biasanya, kata sumber yang mengikuti kebijakan produksi Saudi.

"Saudi mungkin akan memberi sinyal lebih sedikit, mengingat harga telah turun," kata sumber industri.

Perubahan OPEC
Aspirasi untuk mempertahankan harga US$70 hingga US$80 mirip dengan produsen lain dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak.

Aljazair, misalnya, mengatakan US$75 adalah harga yang adil. "Semua orang telah berbicara tentang angka-angka ini," kata seorang delegasi OPEC dari luar Teluk.

Minyak mentah Brent telah berfluktuasi antara US$70 sampai US$80 sejak 10 April. Setelah mencapai US$70,30 pada 15 Agustus, harga minyak telah naik terus sampai menyentuh US$79,72 pada hari Selasa (4/9/2018).

Awal tahun ini, Riyadh berharap akan melihat harga minyak di atas US$80 dan siap untuk melanjutkan dengan pakta pemangkasan pasokan hingga akhir 2018. Namun, pernyataannya berubah setelah Trump pada bulan April meminta OPEC untuk meningkatkan pasokan.

Riyadh telah lama menjadi sekutu dekat Washington. Namun sejak Trump menjadi presiden pada 2017, Arab Saudi bahkan menjadi lebih sensitif terhadap permintaan AS dan kedua negara telah mengoordinasikan kebijakan lebih dekat daripada di bawah pendahulunya Trump.

Pada bulan Juni, misalnya, OPEC setuju dengan Rusia dan sekutu-sekutu lain yang memproduksi minyak bulan lalu, untuk meningkatkan output dari Juli, di mana Arab Saudi menjanjikan peningkatan pasokan yang "terkendali".

Sumber industri Saudi menjelaskan pada pasar tentang rekor produksi minyak di mana Aramco berencana untuk memompa 10,6-10,8 juta barel per hari (bpd) pada bulan Juni dan sebanyak 11 juta bpd pada bulan Juli, angka tertinggi dalam sejarahnya.

Pada akhirnya, produksi Arab Saudi pada bulan Juni adalah 10.488 juta bpd dan pada bulan Juli turun menjadi 10.29 juta.

Tugas Sulit
Rencana untuk meningkatkan output ke rekor tertinggi mulai dikampanyekan, terutama oleh kekhawatiran kejutan pasokan tiba-tiba setelah pejabat AS mengatakan Washington bermaksud untuk mengurangi pendapatan minyak Iran menjadi nol, kata sumber.

Namun sejak itu, Washington mengatakan akan mempertimbangkan pembebasan sanksi Iran. Selain itu, kekhawatiran tentang perang dagang antara Washington dan Beijing telah mengancam akan memukul permintaan minyak di masa depan, kata sumber-sumber itu.

Satu sumber industri mengatakan rencana produksi kotor kerajaan dibuat sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan permintaan minyak belum terwujud sesuai perkiraan. "Kami dapat meningkatkan produksi setinggi 11 (juta bpd) atau bahkan 12, tetapi kemana perginya? Kami tidak bisa mendorong minyak ke pasar," kata sumber industri itu.

Dalam laporan Agustus, Institut Oxford untuk Studi Energi mengatakan Arab Saudi sedang mencoba untuk mengelola harga Brent dalam kisaran yang sangat sempit dari US$70 hingga US$80, dan itu bukan tugas yang mudah.

Lembaga itu mengatakan strategi itu utamanya dibuat untuk memasang batas atas minyak mentah di tengah kekhawatiran tentang dampak tingginya harga permintaan karena perang perdagangan antara Washington dan Beijing meningkat, dan menjaga harga di bawah harga untuk mempertahankan pendapatan dan stabilitas pasar.

Ini menggemakan aspirasi harga Saudi dari satu dekade lalu, ketika kerajaan mengidentifikasi US$75 sebagai harga yang adil. Langkah ini diadakan selama beberapa tahun, namun harga bergerak jauh lebih tinggi.

"Menyerang keseimbangan antara berbagai tujuan, dan melakukannya dalam kisaran harga yang sempit, adalah tugas yang sangat sulit mengingat ketidakpastian yang luas dan guncangan yang berbeda memukul pasar minyak."

"Arab Saudi membutuhkan fleksibilitas dalam kebijakan outputnya." Katanya.
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading