Kalbe Farma Kembangkan Obat Herbal dengan Perusahaan India

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
29 August 2018 20:37
Perusahaan sedang dalam proses mempelajari situasi pasar di kedua negara terkait dengan obat herbal.
Jakarta, CNBC IndonesiaPT Kalbe Farma Tbk (KLBF) akan mengambil langkah serius untuk mengembangkan produk herbal. Ini setelah perseroan menandatangan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan The Himalaya Drug Company, perusahaan farmasi asal India.

Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan saat ini perusahaan sedang dalam proses mempelajari situasi pasar di kedua negara terkait dengan obat herbal. Karena dinilai kedua negara memiliki potensi yang besar untuk produk herbal.


"Pasti di bidang herbal karena strategi besar karena Indonesia banyak dan bisa dikawinkan, seperti jahe merah dan kunyit dengan teknologi India biar win win. Biar tidak impor saja tapi juga berdayakan sumber herbal indonesia," kata Vidjongtius dalam Investor Summit di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (29/8).


Proses itu diperkirakan akan memakan waktu selama tiga hingga enam bulan. Setelah itu, perusahaan akan masuk ke tahap selanjutnya untuk pembahasan kesepakatan lebih lanjut.

Pasar ekspor
Vidjongtius menambahkan saat ini Kalbe Farma sangat serius untuk menggarap pasar luar negeri. Setelah beberapa produknya laku di Filipina, Myanmar, dan Nigeria, saat ini perseroan sedang menjajaki pasar Timur Tengah. Titik awal adalah Dubai.


"Di Dubai kita penetrasi dulu dengan produk Hydro Coco dan jadi penjualan berulang ke sana," kata dia.


Tahun ini perusahaan menargetkan penjualan ekspor dapat berkontribusi sebesar Rp 1 triliun dari total target pendapatan yang sebesar Rp 21 triliun, atau berkontribusi sebesar 6% dari keseluruhan. Sementara pada tahun lalu ekspor baru berkontribusi sebesar 5%.


"Targetnya pertumbuhannya bisa 1% tiap tahun," imbuh dia.


Bentuk keseriusan perusahaan menggarap pasar luar negeri lainnya adalah dengan membangun pabrik baru di Myanmar yng ditargetkan rampung pada 2020 mendatang. Untuk pembangunan pabrik, dialokasikan dana sebesar US$ 18 juta-US$ 20 juta (Rp 259,20 miliar-Rp 288 miliar dalam kurs Rp 14.400/US$).



(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading