Waspada, Hal Ini Harus Diperhatikan dalam Struktur Ekonomi RI

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
06 August 2018 16:21
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2018.
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2018. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,27% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada periode April-Juni 2018. Sebelumnya, pada kuartal I-2018, ekonomi Indonesia tumbuh 5,06% YoY.

Data ini mampu melampaui konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018 diramal sebesar 5,125% YoY. Apabila dilihat secara historis, pertumbuhan ekonomi di RI pada kuartal lalu merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir, atau sejak ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,59% YoY pada kuartal II-2013.




Meski demikian, harus diakui bahwa kencangnya pertumbuhan ekonomi RI di kuartal lalu banyak didukung oleh faktor musiman.

Pertama, sektor pertanian tumbuh mengesankan karena pergeseran panen dari kuartal I ke kuartal II. Sektor ini pun tumbuh 4,76%, tercepat dalam empat kuartal terakhir. Pertumbuhan sektor pertanian yang impresif lantas mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Maklum, sektor ini adalah penyumbang terbesar kedua dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi 13,63%, hanya kalah dari sektor industri pengolahan di kisaran 20%.

Kedua, momen Ramadhan dan Idul Fitri yang jatuh pada pertengahan Mei-Juni 2018 ini. Pada umumnya, saat momen ini datang, konsumsi masyarakat memang mencapai puncaknya. Tak heran, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sangat menggembirakan.

Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sebesar 50% lebih dari PDB nasional tumbuh sebesar 5,14% YoY pada kuartal lalu, lebih cepat daripada capaian sebesar 4,95% YoY di kuartal II-2017. Hal ini lantas menjadi bahan bakar utama meroketnya pertumbuhan ekonomi RI di periode April-Juni 2018.

Bahkan, apabila ditinjau secara historis, pertumbuhan konsumsi rumah tangga RI di kuartal II-2018 merupakan yang tertinggi sejak kuartal II-2014.
Hal ini tidak lepas dari adanya stimulus pemerintah berupa gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mencapai Rp35,75 triliun, yang akhirnya semakin memperkuat dampak positif momen Ramadhan-Idul Fitri terhadap konsumsi masyarakat.

Ketiga, momen pemiihan kepala daerah (pilkada) serempak dan Piala Dunia 2018. Harus diakui bahwa kegiatan pilkada yang dilangsungkan secara bersamaan di sejumlah wilayah di Indonesia akan mendongkrak konsumsi, khususnya untuk kegiatan kampanye.

Sementara itu, momen piala dunia juga memberikan sumbangsih bagi meningkatnya konsumsi masyarakat. Sebagaimana kebiasaan, nonton sepakbola tentu tidak afdhal tanpa makanan, minuman, dan camilan. Mohon maaf, rokok juga menjadi salah satu teman nonton sepakbola. Hal ini lantas mampu mendongkrak penjualan ritel untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Oleh karena ketiga faktor musiman di atas, pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II-2018 lantas diragukan akan dapat berlanjut hingga akhir tahun. Pasalnya, jika faktor-faktor musiman di atas berlalu, maka pertumbuhan ekonomi akan kehabisan bensin. Akankah pertumbuhan ekonomi yang kencang di kuartal lalu hanya bersifat "one shot"?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim riset CNBC Indonesia mengulas sejumlah tantangan dan peluang yang siap menyambut pertumbuhan ekonomi RI hingga akhir tahun.

(NEXT)

Tantangan dan Peluang bagi Pertumbuhan Ekonomi ke Depan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading