Internasional

Rusia Lepas 84% Kepemilikan Obligasi AS dalam 2 Bulan Saja

Market - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
30 July 2018 12:19
Rusia Lepas 84% Kepemilikan Obligasi AS dalam 2 Bulan Saja
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Rusia, sebelumnya dianggap sebagai pemegang surat utang Amerika Serikat (AS) yang penting, terus-menerus mengurangi kepemilikan surat berharga AS dengan tajam.

Surat berharga AS yang dimiliki Rusia turun tajam 84% antara bulan Maret dan Mei, anjlok menjadi US$14,9 miliar (Rp 214,7 triliun) dari US$96,1 juta dalam dua bulan, menurut laporan Kementerian Keuangan AS yang dirilis tanggal 18 Juli.

Melansir CNBC International, para blogger keuangan menyebut kabar tersebut sebagai potensi buruk. Namun, beberapa analis menduga transaksi tersebut lebih terakit pada perekonomian Rusia yang terkena sanksi dan alokasi portofolio.


Kepemilikan utang AS oleh Rusia tertutupi China dan Jepang. Kedua negara Asia itu secara aktif mengelola mata uang mereka dan masing-masing memiliki lebih dari US$1 triliun surat berharga AS. Bahkan, banyaknya utang AS yang dimiliki China disebut para pengamat sebagai "pilihan nuklir" dalam perang dagang China-Amerika.

Apalagi, Negeri Paman Sam yang notabene negara dengan perekonomian terbesar di dunia nampak rentan terhadap penjualan surat utang oleh China yang dapat meningkatkan imbal hasil (yield).


Pergerakan Rusia di pasar utang muncul di tengah hebohnya dugaan campur tangan Moscow dalam pemilu AS tahun 2016, yang mengakibatkan dijatuhkannya sanksi terhadap perekonomiannya. Penjualan surat utang AS oleh Rusia di bulan Mei juga berbarengan dengan imbal hasil patokan obligasi negara AS (US Treasury) tenor 10 tahun, yang berbanding terbalik dengan harga utang, menyentuh titik tertinggi sejak 2011.

Meski imbal hasil bond bertenor 10 tahun telah turun dari tingkat di atas 3%, pergerakannya memiliki implikasi untuk instrumen keuangan lain, seperti bunga KPR (mortgage) dan pinjaman otomotif, yang biasanya berdasarkan pada bunga ini.

Imbal hasil utang tenor 10 tahun setelah itu stabil dan diperdagangkan pada 2,958%.


Aksi jual ini adalah sanksi?

Pakar obligasi, seperti Kevin Giddis dari Raymond James, menyebut banjir pasokan utang AS untuk bunga janga panjang yang lebih tinggi di bulan Mei. Meskipun begitu, sebagian besar pasokan datang dari lelang utang besar-besaran guna membantu menutup selisih akibat pemotongan pajak baru dan undang-undang belanja Washington, bukan penjualan yang dilakukan Moskow.

"Sementara likuidasi oleh Rusia itu mencurigakan, jumlah yang mereka miliki serta nilai yang mereka jual tidaklah signifikan dibandingkan pasar utang yang bernilai triliunan dolar," kata Giddis yang menjabat sebagai Kepala Fixed Income Cital Market di Raymond James hari Minggu (29/7/2018).

"Jika saya harus bertaruh, saya akan bertaruh bahwa ini adalah bagian dari saksi dan penyesuaian portfolio, serta hanya sedikit terkait dengan pergerakan pasar yang nyata," tambahnya. "Jika ini adalah China atau Jepang, maka ceritanya bisa cukup berbeda..."

Pemegang asing utama dari utang AS memiliki obligasi Paman Sam senilai US$6,21 saat ini, sementara total utang publik mencapai $21,3 triliun di tanggal 26 Juli.

Untuk diketahui, AS menerapkan sanksi pada bulan April terhadap pebinis, perusahaan, dan pejabat pemerintah Rusia. Tindakan itu merupakan pukulan langsung terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, yang didesain untuk menghukum Rusia atas berbagai pelanggaran, termasuk dugaan terlibat dalam pemilu AS 2016.

Tindakan itu membekukan aset-aset "oligarki", serta menghukum perorangan ataupun perusahaan non-Amerika yang berbisnis dengan sanksi entitas dengan cara yang sama dengan Amerika. Ini adalah komponen khusus yang penting dari sanksi, yang antara lain menargetkan berbagai pihak termasuk konglomerat aluminium Oleg Derispaska dan anggota dewan Suleiman Kerimov.

Kementerian Keuangan AS tidak membalas permintaan CNBC International untuk berkomentar. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading