Bunga Acuan Naik 50 Bps Jadi "Obat Kuat" Sementara Rupiah

Market - Roy Franedya, CNBC Indonesia
30 June 2018 18:24
Bunga Acuan Naik 50 Bps Jadi
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terkoreksi sejak awal pekan diakibatkan penguatan dolar AS. Penguatan dolar AS terjadi seiring dengan sentimen negatif perang dagang China-AS sehingga investor global lebih memilih investasi yang dinilai lebih aman (save asset).
 
Data Reuters menunjukkan nilai tukar dolar AS menguat dan menekan mata uang lain di Asia, terutama rupiah. Rupiah melemah 250 poin menjadi Rp 14.075 per dolar AS dari Rp 14.325 per dolar AS pada pekan sebelumnya.

Foto: Reuters diolah CNBC Indonesia
 
Pelemahan rupiah pada Kamis sempat melampaui titik psikologis Rp 14.400/dolar AS, meskipun akhirnya bertengger di Rp 14.390/dolar AS pada posisi penutupan hari tersebut.
 
Meskipun penurunan nilai tukar juga terjadi di negara Asia lain, turunnya mata uang Garuda juga menjadi yang terlemah di antara negara sekawasan.

 Faktor AS
 
Penguatan dolar AS didorong oleh sentimen perbaikan ekonomi AS yang dapat membuat otoritas moneter Negeri Paman Sam akan lebih agresif dalam menaikkan kembali suku bunga acuan mereka.
 
Pernyataan bernada agresif terhadap penaikan suku bunga acuan (hawkish) ini berasal dari otoritas The Fed Boston.
 
Faktor penaikan suku bunga The Fed tentunya dapat membuat investor global bereaksi negatif terhadap portofolio investasinya di aset lebih berisiko (riskier asset), termasuk investasinya di Indonesia sebagai salah satu tujuan dari sekian banyak negara berkembang lain.
 
Selain faktor The Fed tersebut, spekulasi terhadap memanasnya perang dagang antara AS-China juga memanaskan ketegangan antara Negara Panda dan Negeri Koboi.
 
Pembatasan investasi perusahaan China ke AS itu terkait dengan perang industri teknologi dan perangkat elektronik kedua negara.
 
Sentimen Lokal
 
Faktor dari tingkat lokal juga ada. Kekhawatiran terjadi pada pembayaran dividen. Pembayaran dividen tersebut terutama yang dilakukan kepada pemegang saham asing tentunya akan membuat likuiditas dolar AS menipis, sehingga tekanan jual rupiah akan berkontraksi.
 
Terdapat kekhawatiran bahwa defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2018 akan kembali melebar.
 
Belum lagi akibat sentimen terhadap dolar AS juga, investor melepas saham portofolionya, sehingga aksi jual bersih (nett sell) investor di pasar saham mencapai Rp 2,14 triliun.
 
Meskipun rupiah terkoreksi, di penghujung pekan, kejutan terjadi. Suku bunga acuan Bank Indonesia yaitu suku bunga acuan repo 7 hari (7DRRR) naik 50 bps menjadi 5,25%, di luar ekspektasi pelaku pasar.
 
Rupiah berhasil menguat, dan kenaikannya mendaulat mata uang merah putih menjadi yang terkuat sekawasan pada Jumat sore.



(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading