Cegah Outflow Jadi Alasan BI Tak Ragu Naikkan Bunga

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
19 June 2018 14:58
Cegah Outflow Jadi Alasan BI Tak Ragu Naikkan Bunga
Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan ekonom menilai sinyal kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) untuk ketiga kalinya pada tahun ini sebagai salah satu upaya menahan aliran modal asing keluar dari pasar keuangan domestik.

Ekonom Bank Central Asia David Sumual mengatakan, upaya pre-emptive, front loading, dan ahead the curve yang dikemukakan BI di bawah komando Perry Warjiyo memang bertujuan untuk menstabilisasi nilai tukar.

"Kalau BI antisipatif, saya pikir bisa cegah outflow. Lebih untuk mencegah agar investor portofolio tetap tenang," ungkap David kepada CNBC Indonesia, Selasa (19/6/2018).


Menurut David, pasar keuangan domestik akan sedikit bergejolak lantaran terkena sentimen negatif dari hasil rapat anggota dewan gubernur The Fed (FOMC) dan rencana pengetatan moneter bank sentral Eropa (ECB).

Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, kenaikan Fed Fund Rate beberapa waktu lalu sejaitnya sudah diantisipasi oleh pelaku pasar. Namun, ada hal yang menjadi kekhawatiran.

"Statement terakhir bahwa The Fed akan menaikkan sebanyak 4 kali tahun ini membuat risiko capital flows besar," jelasnya.

Menurut Andry, signal kenaikan suku bunga acuan bertujuan untuk memastikan kepada pelaku pasar bahwa bank sentral tak lagi telat merespons perkembangan global.

"Serta mendudukkan suku bunga BI pada spread yang seharusnya pada FFR," katanya.


Perlu Ada Kebijakan Selain Bunga Acuan

Dibutuhkan suatu 'kejutan' baru dari bank sentral, yang mampu menarik minat investor asing menanamkan modalnya di Indonesia.

"Harus ada surprise lagi, supaya dana asing masuk lagi," kata Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara.

Bhima memandang, kenaikan bunga acuan hanya bersifat temporer. Bagi investor, fundamental perekonomian suatu negara menjadi salah satu indikator utama yang menjadi pertimbangan utama pelaku pasar sebelum menanamkan modalnya.

"Tidak usah muluk-muluk harus tumbuh 5,4%, tapi minimal bisa tumbuh 5,2%," jelasnya.

Menurut dia, kejutan tersebut pun bukan hanya berasal dari bauran kebijakan bank sentral. Pemerintah, sambung dia, perlu ikut serta untuk mendongkrak geliat perekonomian nasional agar investor semakin percaya terhadap prospek perekonomian nasional.

"Jangan BI sudah bekerja keras, tapi pemerintah terlihat santai-santai saja. Karena sejauh ini respons BI sudah cukup baik melihat dinamika ekonomi dunia," katanya.
(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading