Tak Disangka, Saham Boeing Malah Kinclong Saat Perang Dagang

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
18 June 2018 16:09
Disaat AS dan China sibuk perang dagang, saham Boeing justru bisa melesat hingga 21,35% sepanjang tahun ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Di Amerika Serikat (AS), ada indeks saham yang begitu familiar di kalangan pelaku pasar, yaitu indeks Dow Jones. Indeks ini berisikan 30 saham perusahaan-perusahaan terbuka besar yang bermarkas di AS.

Biasanya, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam indeks bergengsi ini merupakan pemimpin di industri yang digelutinya. Setiap pergerakan indeks Dow Jones akan memberikan pengaruh bagi bursa saham lainnya di seluruh penjuru dunia.

Sepanjang tahun ini, indeks Dow Jones tercatat naik tipis sebesar 1,5%. Namun, mungkin tak banyak yang menyangka jika dari 30 saham anggota indeks Dow Jones, imbal hasil terbesar justru diberikan oleh saham Boeing. Pada akhir 2017, 1 unit saham Boeing dihargai US$ 294,91. Per Jumat kemarin (15/6/2018), 1 unit saham Boeing sudah dihargai sebesar US$ 357,88. Imbal hasil yang diberikan mencapai 21,35%.


Hal ini bisa dianggap aneh lantaran isu perang dagang menyelimuti pasar keuangan dunia sepanjang tahun ini. Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan bea masuk baja dan aluminium sebesar masing-masing 25% dan 10% bisa mempengaruhi Boeing yang merupakan produsen pesawat.

Pada tanggal 1 Maret kala Trump menyuarakan kebijakan itu, saham Boeing anjlok hingga 4,3% (dari US$ 362,21/unit menjadi US$ 349,69/unit). Bea masuk yang diterapkan AS tersebut dikhawatirkan akan mengerek naik biaya produksi perusahaan. Jika pada akhirnya harga jual dinaikkan, penjualan bisa turun dan memukul profitabilitas perusahaan.

Namun, dampak dari kenaikan bea masuk aluminium terhadap Boeing ternyata kecil, seperti dilaporkan oleh JP Morgan.

"Karena aluminium dan (dalam besaran yang lebih kecil) baja merupakan komponen untuk memproduksi pesawat, pengumuman dari Presiden AS Donald Trump kemarin (1 Maret) bahwa ia berencana mengenakan bea masuk untuk impor kedua logam (baja dan aluminium) masing-masing sebesar 10% dan 25% adalah hal yang negatif untuk produsen pesawat di AS," tulis JP Morgan dalam risetnya, seperti dikutip dari situs Leeham.

"Namun, dampaknya seharusnya kecil, seiring dengan kenaikan harga aluminium sebesar lebih dari 30% pada tahun lalu (jauh lebih tinggi dari tarif yang diajukan) yang memberikan dampak yang kecil atau bahkan tak ada sama sekali bagi Boeing dan produsen pesawat lainnya."

"Jika kita asumsikan bahwa aluminium berkontribusi sebesar 70% dari berat pesawat Boeing tipe 777 atau 737 dan material tersebut berkontribusi sebesar 30% dari total harga pesawat, maka kenaikan sebesar 10% pada harga aluminium hanya berarti kenaikan harga kurang dari 2% untuk pesawat dengan kandungan logam yang lebih besar," papar sang analis Seth Seifman.

Lebih lanjut, Seifman menjelaskan bahwa baja merupakan komponen kecil dalam produksi pesawat sehingga pengenaan bea masuk sebesar 25% seharusnya tak memberi dampak yang berarti.

Laporan Keuangan Kuartal-II Jadi Penentuan
Kedepannya, investor akan memperhatikan rilis laporan keuangan kuartal-II perusahaan guna melihat apakah Boeing benar-benar 'kebal' terhadap bea masuk baja dan aluminium yang diterapkan oleh AS.

Jika hal ini benar adanya, maka saham Boeing bisa terus naik, mengingat laju ekonomi dunia yang masih pesat tentu akan menjaga permintaan pesawat terbang. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi dunia tahun ini akan tumbuh sebesar 3,1%, sama dengan estimasi mereka atas pertumbuhan ekonomi tahun lalu.

Para analis pun terlihat masih sangat optimis dengan saham Boeing. Mengutip Reuters, median target harga untuk saham Boeing saat ini berada di angka US$ 400/unit, mengimplikasikan potensi kenaikan sebesar 11,8% jika dibandingkan dengan harga saat ini.
(ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading