Simak 5 Sentimen Penggerak Pasar Minggu Depan

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
03 June 2018 17:51
Berikut beberapa sentimen yang berpotensi menggerakan bursa saham dunia pekan depan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bulan Juni dipastikan menjadi bulan yang penuh tantangan bagi Investor. Pasalnya sepanjang bulan Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berada dalam tekanan. Sepanjang bulan lalu, IHSG melemah tipis 0,18% ke level 5.983,59.

Terlebih jika berkaca kepada sejarah, bulan Juni bukan merupakan bulan yang buruk untuk bertransaksi di bursa saham. Secara rata-rata dalam lima tahun terakhir (2013-2017), IHSG memberikan kerugian sebesar 0,98% secara bulanan (MoM) pada bulan Juni.


Pada perdagangan pekan depan, beberapa sentimen berpotensi menggerakkan bursa saham dunia, sehingga harus dimonitor oleh investor.


Berikut beberapa sentimen yang dimaksud, seperti dirangkum oleh tim riset CNBC Indonesia.

Babak Baru Perang Dagang
Babak baru perang dagang kini telah resmi dimulai. Adalah keputusan Presiden AS Donald Trump yang tetap memberlakukan bea masuk baja dan aluminium terhadap Kanada, Meksiko, dan negara-negara anggota Uni Eropa yang menjadi pemantiknya.

Sebelumnya, negara-negara tersebut telah dikecualikan dari pengenaan bea masuk selama beberapa bulan lamanya guna membuka ruang negosiasi. Namun, pengecualian tersebut telah berakhir pada hari Jumat (01/6/2018) dan pemerintahan AS memutuskan untuk tak memperpanjangnya.

Negara-negara yang disasar AS pun tak tinggal diam. Aksi balasan langsung mereka siapkan. Melansir CNBC International, Jumat (1/6/2018), Meksiko yang merupakan mitra dagang terbesar ketiga AS akan mematok bea masuk terhadap beberapa jenis produk eskpor AS ke negara tersebut, seperti daging babi, apel, anggur, dan keju.

Presiden Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker menyatakan siap melancarkan serangan balik dengan menetapkan bea masuk atas selai kacang, bourbon, hingga motor asal AS seperti Harley-Davidson.

Sementara itu, Kanada berencana mengenakan bea masuk terhadap produk Wiski, jus jeruk dan produk makanan lainnya bersama dengan baja dan aluminium asal AS. Tarif yang dikenakan berkisar 10-25%.

"Langkah pembalasan ini akan mencakup impor senilai US$16,6 miliar (Rp 230,74 triliun)," ujar Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland, Kamis (31/5/2018) seperti dikutip dari CNBC International.

Donald Trump-Kim Jong Un Jadi Bertemu?
Kini rencana pertemuan antara Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un nampak akan benar-benar terealisasi. Pada hari Jumat kemarin, Trump bertemu dengan pejabat tinggi asal Korea Utara Kim Yong Chol di Gedung Putih.

Pasca pertemuan tersebut, Donald Trump mengungkapkan bahwa ia berencana untuk bertemu dengan Kim Jong Un pada 12 Juni mendatang untuk mendiskusikan pemusnahan senjata nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara dan perdamaian antar kedua negara.

Sebelumnya, rencana ini sempat dibatalkan secara sepihak oleh Trump lantaran pernyataan-pernyataan bernada permusuhan yang dilontarkan oleh Kim Jong Un.

Pada pekan depan, pelaku pasar akan mencermati kelanjutan dari rencana pertemuan bersejarah ini. Jika ada pembatalan lagi, pelaku pasar bisa dibuat gusar dan dipaksa beralih ke instrumen-instrumen safe haven seperti emas, Yen, dan Franc.

Respons Pasar Atas Data Tenaga Kerja AS
Pada hari Jumat waktu setempat, penciptaan lapangan kerja di luar sektor pertanian untuk periode Mei tercatat sebesar 223.000, jauh mengungguli konsensus yang dihimpun oleh Reuters sebesar 188.000. Seiring dengan pesatnya penciptaan lapangan kerja, tingkat pengangguran turun ke level 3,8%, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 3,9%.

Tingkat pengangguran tersebut merupakan yang terendah dalam 18 tahun terakhir. Hal ini merupakan catatan impresif tersendiri bagi kepemimpinan Trump.

Respons pasar keuangan pun cukup mengkhawatirkan. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun melejit 7,3bps menjadi 2,895% lantaran persepsi mengenai kenaikan suku bunga acuan secara lebih agresif oleh bank sentral AS, Federal Reserve, kembali mencuat ke permukaan.

Jika pada hari Senin besok (4/6/2018) imbal hasil terus melejit, investor bisa dipaksa melepas instrumen berisiko seperti saham dan mengalihkannya ke dolar AS, sembari menungu waktu yang tepat untuk mulai memburu obligasi AS.

Perkembangan Kondisi Politik di Italia
Pascaterancam menghadapi pemilu dadakan (snap election), Italia kini telah resmi memiliki pemerintahan baru. Menjelang akhir pekan, dua partai populis di Italia, yakni Liga dan Gerakan Bintang Lima telah diberi lampu hijau oleh Presiden Sergio Mattarella untuk membentuk pemerintahan, dengan Giuseppe Conte ditempatkan sebagai Perdana Menteri.

Sebelumnya, rencana mereka untuk berkoalisi gagal setelah Mattarella menolak nominasi Paolo Savona sebagai Menteri Ekonomi. Mattarella menolak nominasi Savona karena sempat mengancam akan membawa Italia keluar dari Uni Eropa.

Kini, kedua partai tersebut mengusung Giovanni Tria sebagai Menteri Ekonomi yang baru. Pria berusia 69 tahun tersebut merupakan seorang profesor di bidang ekonomi yang dikenal sering menyuarakan kritiknya terhadap tata kelola ekonomi di wilayah Uni Eropa. Perbedannya, Tria belum pernah menyuarakan keluarnya Italia dari blok ekonomi pengadopsi mata uang Euro.

Kini, setiap kata yang keluar dari mulut sang profesor akan dicermati oleh pelaku pasar. Jika terdapat indikasi bahwa Italia akan mengikuti jejak Inggris untuk keluar dari Uni Eropa, pasar saham dunia bisa ramai ditinggal investor. Pasalnya, akan timbul persepsi bahwa negara-negara Eropa lainnya yang terlilit utang juga akan mengikuti langkah serupa.

Italia Mereda, Spanyol Membara
Krisis politik di italia mulai mereda, giliran Spanyol yang kini menghadapinya. Pada hari Jumat waktu setempat (1/6/2018), Mariano Rajoy dilengserkan dari posisinya sebagai Perdana Menteri berdasarkan mosi tidak percaya (no-confidence vote). Pedro Sanchez kini menempati posisi pretigius yang sudah dinikmati Rajoy sejak 2011 silam.

Banyak pihak memprediksi kemenangan Sanchez justru membawa ketidakpastian di sisi politik bagi Spanyol. Pasalnya, partai pengusung Sanchez hanya menempati 84 dari 350 kursi yang ada di parlemen. Jika ingin meningkatkan kursi di parlemen menjadi mayoritas, partai pengusung Sanchez harus menunggu sampai pemilihan umum digelar pada pertengahan 2020.


Sedikitnya kursi yang dimiliki membuat pemerintahan Sanchez akan kesulitan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang mereka inginkan nantinya. Perpecahan di tubuh partai pengusung Sanchez pun mulai timbul di benak investor.

Lebih lanjut, ketidakpastian terkait rencana pemisahan Katalunya dari Spanyol juga masih cukup tinggi. Terlebih, dua partai yang mendukung kemerdekaan Katalunya ikut berkoalisi mendukung Sanchez. Bisa saja Sanchez nantinya melunak dan memberikan lampu hijau bagi Catalunya untuk hengkang dari Negeri Matador.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(ank/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading