Penjualan Membaik, Saham Properti Mulai Diincar

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
09 February 2018 15:35
Penjualan Membaik, Saham Properti Mulai Diincar
Jakarta , CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) baru saja merilis Survei Harga Properti Residensial. Hasil kajian BI menyebutkan bahwa sektor properti Tanah Air masih tumbuh.

Survei BI tersebut sejalan dengan kenaikan harga saham-saham sektor properti yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Dan secara year to date, indeks sektor properti tercatat naik 7% tertinggi kedua setelah pertambangan.

Mengutip data Survei Harga Properti Residensial yang dirilis Bank Indonesia (BI), Jumat (9/2/2018), indeks harga properti pada kuartal IV-2017 tercatat 201,36. Naik dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 200,26 dan periode yang sama pada 2016 yaitu 194,54.




Pada kuartal I-2018, indeks properti diperkirakan naik lagi menjadi 201,36. Kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja masih menjadi penyebab kenaikan harga properti.

Pada kuartal IV-2017, pertumbuhan harga properti mencapai 3,5% secara year on year (YoY). Lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang 3,32% YoY dan kuartal IV-2016 yang 2,28% YoY.

Pertumbuhan sektor properti yang masih mengkilap ini menjadikannya sebagai salah satu aset untuk lindung nilai. Di tengah pasar yang bergejolak, investor membutuhkan tempat untuk mengamankan asetnya dan properti menjadi pilihan.

Ini menyebabkan kinerja emiten-emiten properti masih bagus kala pasar sedang bergelombang. Kinerja indeks properti pun lumayan, tumbuh 7,14% secara year to date (YtD) yang hanya kalah dari sektor pertambangan dengan pertumbuhan 21,73%. Sektor properti seolah menjadi safe haven.

Sejumlah saham properti yang pertumbuhannya tinggi secara YtD adalah PT Indonesia Prima Property Tbk (OMRE) naik 115,91%, PT Sentul City Tbk (BKSL) naik 48,23%, dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) naik 22,22%. Bagaimana kinerja fundamental emiten-emiten tersebut?

Secara kinerja, OMRE sebenarnya tidak terlalu mencolok. Pada kuartal III-2016, perseroan masih membukukan laba Rp 266 miliar. Namun pada kuartal III-2017 berbalik rugi Rp 51 triliun.

Pendapatan usaha OMRE juga bergerak turun. OMRE merupakan pemilik dan pengelola sejumlah properti seperti Apartemen Puri Casablanca di Jakarta Selatan, Mal Blok M (Jakarta Selatan), Wisma Sudirman (Jakarta Pusat), Grand Tropic Suites Hotel (Jakarta Barat), dan sebagainya.

“Saat ini Perusahaan belum memiliki rencana untuk melakukan aksi korporasi. Perusahaan lebih fokus untuk meningkatkan kinerja dan mengembangkan Wisma Sudirman yang saat ini dalam tahap pembongkaran gedung lama dan perizinan,” tulis laporan perseroan dalam public expose insidentil pada 17 Januari 2018.

Penjualan Membaik, Saham Properti Mulai Jadi IncaranFoto: CNBC Indonesia

Sementara BKSL punya kinerja yang lebih kinclong. Pendapatan BKSL pada kuartal III-2017 tercatat Rp 238,64 miliar, tumbuh 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Mengutip proyeksi Reuters, pendapatan BKSL sepanjang 2017 adalah Rp 1,53 triliun dan akan tumbuh menjadi Rp 1,81 triliun pada 2018. Setidaknya kinerja BKSL masih bisa diandalkan sampai tahun depan.

Penjualan Membaik, Saham Properti Mulai Jadi IncaranFoto: CNBC Indonesia


Kemudian SMRA pada kuartal III-2017 mencetak pendapatan Rp 1,31 triliun. Naik 1% dibandingkan periode yang sama pada 2016.

Sepanjang 2017, SMRA diperkirakan mampu meraup pendapatan Rp 5,49 triliun. Tumbuh 10% dibandingkan 2016. Sementara pada 2018 pendapatan SMRA diperkirakan naik lagi menjadi Rp 5,88 triliun dan pada 2019 tumbuh menjadi Rp 6,1 triliun.

Penjualan Membaik, Saham Properti Mulai Jadi IncaranFoto: CNBC Indonesia



TIM RISET CNBC INDONESIA
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading