Harga Batu Bara yang Mulai Menggeliat

Market - Anthony Kevin & Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
12 January 2018 08:27
Harga Batu Bara yang Mulai Menggeliat
  • Kenaikan harga batu bara ini, sekaligus sinyal sedang terjadi pemulihan ekonomi dunia yang mendorong permintaan.
  • Selain akibat harga minyak, kenaikan harga batu bara juga disebabkan tingginya permintaan terutama dari China. Aktivitas manufaktur di China masih menggeliat di tengah pertumbuhan ekonomi yang sedang mengalami masa penyesuaian.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga batu bara dunia menjadi pemicu kenaikan harga saham-saham dari sektor pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam tiga bulan terakhir, harga harga batu bara tercatat naik sampai 10,64%

Kenaikan harga batu bara tersebut diperhitungkan investor akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan-perusahan pertambangan. Setalah harga batu bara sempat anjlok 2015. Kenaikan harga batu bara ini, sekaligus sinyal sedang terjadi pemulihan ekonomi dunia yang mendorong permintaan.
Harga Batu Bara yang Mulai MengeliatFoto: Aristya Rahadian Krisabella
Jika dirunut, sebenarnya kenaikan harga batu bara tidak lepas dari perkembangan harga minyak. Senada dengan batu bara, harga minyak mulai naik pada November 2017.

Penyebabnya adalah ketegang politik di Arab Saudi, di mana pihak kerajaan mulai “memburu” para pangeran yang dianggap tidak sejalan. Kebijakan ini masih berlaku di Arab Saudi hingga saat ini sehingga dikhawatirkan terjadi eskalasi yang bisa menggangu perekonomian.


Memasuki 2018, gejolak sosial-politik terjadi di Iran. Kesulitan ekonomi yang masih mendera Negeri Persia melahirkan gelombang demonstrasi anti pemerintah.

Kenaikan harga minyak dunia dipicu Krisis Iran yang merupakan salah satu penghasil minyak terbesar dunia. Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar yang tergabung dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dengan jumlah produksi hampir 4 juta barel per hari.

Sebelum Krisis Iran memuncak, harga minyak memang sudah terlebih dulu berada dalam tren naik, merespons wacana perpanjangan pemangkasan produksi OPEC sampai dengan akhir 2018. Pada November 2017 wacana yang sama sudah disampaikan anggota OPEC.

Krisis di Iran memucak setelah sekitar 10 ribu rakyatnya melakukan unjuk rasa dan demontrasi pada 28 Desember 2017. Rakyat Iran marah karena kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan pemerintah menyampaikan rencana menaikkan harga bahan bakar minyak.

Arab Saudi dan Iran merupakan produsen minyak utama utama. Bila terjadi gangguan di negara-negara tersebut, dikhawatirkan pasokan minyak akan terhambat dan harga pun melonjak.

Selain akibat harga minyak, kenaikan harga batu bara juga disebabkan tingginya permintaan terutama dari China. Aktivitas manufaktur di China masih menggeliat di tengah pertumbuhan ekonomi yang sedang mengalami masa penyesuaian. Pertumbuhan produksi industri China selama 2017 masih tumbuh tinggi di kisaran 6%.

Ini sudah tampak pada respons investor terhada saham-saham pertambangan. Pada perdagangan kemarin, yang sudah terlihat mencolok adalah akumulasi pada saham-saham grup Bakrie. Ada tiga saham grup Bakrie yang aktif ditransaksikan investor pada perdagangan kemarin.

Tiga saham grup Bakrie memimpin volume transaksi di Bursa Efek Indonesia, yaitu PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan volume 1,1 miliar lembar dan tercatat naik 34,04%, PT BUMI Resources Tbk (BUMI) volume transaksi 1,3 miliar lembar dan naik 3,45%, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan volume transaksi 1,8 miliar saham dan naik 22,22%.

Kenaikan saham tambang grup Bakrie tidak sendiri. Hal tersebut tampak dari kenaikan indeks sektor pertambangan yang secara year to date naik 9,71%. Ada potensi saham-saham pertambangan akan melanjutkan penguatannya. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading