Bunga KPR Tinggi Jadi Kendala Utama Punya Rumah

Market - Shuliya Ratanavara, CNBC Indonesia
09 January 2018 18:15
Masyarakat kelas menengah butuh insentif dari pemerintah agar bisa memiliki rumah, dan bisa mengatasi backlog yang mencapai 11,4 juta unit.
  • Bunga bank yang cenderung tinggi tidak hanya krusial bagi pembeli, tetapi juga krusial bagi pihak pengembang.
  • Konsumen memilih skema pembayaran melalui cash installment (meminjam dari pengembang) ialah proses administrasi pengurusan KPR yang berbelit lewat lembaga keuangan.

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan konsultan properti menilai suku bunga bank yang tinggi menjadi kendala utama masyaraka sulit memiliki rumah. Masyarakat kelas menengah butuh insentif dari pemerintah agar bisa memiliki rumah, dan bisa mengatasi backlog yang mencapai 11,4 juta unit.

Hal tersebut disampaikan Senior Associate Director Colliers Ferry Salanto dalam paparan properti selama 2017 dan outlook 2018. ”Masalahnya kaum menengah bawah ini memerlukan insentif dari pemerintah terutama mengenai pajak dan suku bunga, asal mereka difasilitasi harusnya bergerak” jelas Ferry di World Trade Center, Selasa (09/01)

Feery menambahkan, bunga bank yang cenderung tinggi tidak hanya krusial bagi pembeli, tetapi juga krusial bagi pihak pengembang. Ferry menjelaskan, suku bunga yang tinggi akan membuat tahap konstruksi jadi terhambat. Maka itu pemberian insentif dari pemerintah bukan hanya soal keringanan uang muka (loan to value/ LTV).


“Jadi isunya bukan cuma memenuhi kekurangan rumah tapi juga bagaimana akses masyarakat ini bisa mempunyai rumah,” tambah Ferry.

Selain soal kepemilikan rumah, suku bunga yang masih tinggi juga membuat para investor properti enggan menggunakan skema pembayaran melalui kredit pemilikan rumah (KPR) dari perbankan dan memilih pembayaran melalui cicilan bertahap langsung kepada pengembang (cash installment).

Menurut catatan Colliers, pada 2013 tercatat 63% pembayaran apartemen menggunakan skema cash installment. Jumlah ini menyusut menjadi 50% pada tahun 2017. Pembayaran dengan skema KPR meningkat dari 16% pada 2013 menjadi 32% pada 2017 seiring dengan penurunan suku bunga perbankan dan juga diberlakukannya insentif melalui LTV.

Ferry menjelaskan, alasan lain konsumen memilih skema pembayaran melalui cash installment (meminjam dari pengembang) ialah proses administrasi pengurusan KPR yang berbelit lewat lembaga keuangan. “Selain dari sisi administrasi dan kepraktisan, mereka juga melihat dari sisi cicilan itu ada yang tidak perlu pake downpayment juga. Jadi nanti tinggal diserah terimakan saja ketika sudah selesai,” jelas Ferry.

Padahal, hal ini berbahaya karena pengembang bukanlah lembaga pembiayaan sehingga tidak ada proteksi. “Kalau kita lagi nyicil kemudian proyeknya tertunda, itu kalau minta balikin susah karena tidak dijamin pemerintah,” katanya.

Oleh karena itu, Ferry menambahkan, perlu membuat pembiayaan KPR lebih murah agar cash installment melalui pengembang berkurang porsinya. Tren membayar menggunakan cash installment ini masih akan terus berlanjut sampai suku bunga perbankan stabil. Sehingga market akan bergeser dengan sendirinya.

“Tren ini masih akan berlanjut karena sekarang kondisinya juga belum terlalu baik, suku bunganya belum terlalu bagus. Kalau tidak dibantu dengan cara seperti ini susah jualannya,” tutup Ferry.
Artikel Selanjutnya

Maaf, DP 0% Baru Berlaku Jika Syarat-syarat Ini Terpenuhi


(hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading