Berusia 100 Tahun, Sumur Panas Bumi Peninggalan Belanda Masih Aktif

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
21 October 2026 13:10
Sumur Panas Bumi Peninggalan Belanda di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)
Foto: Sumur Panas Bumi Peninggalan Belanda di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

Bandung, CNBC Indonesia - Sebuah sumur panas bumi peninggalan zaman kolonial Belanda di kawasan Kamojang, Jawa Barat masih menyemburkan uap meski usianya telah mencapai 100 tahun. Sumur tersebut menjadi salah satu bukti panjangnya sejarah pemanfaatan energi panas bumi atau geothermal di Indonesia.

Sumur yang dikenal sebagai Kamojang-3 itu pertama kali dibor pada 1926. Hingga satu abad kemudian, sumber panas bumi di kawasan tersebut masih aktif dan terus dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional.

Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Andi Joko bilang, Kamojang merupakan lokasi bersejarah dalam perjalanan pengembangan panas bumi di Tanah Air.

"Sumur pertama Kamojang-3 ini dibuat tahun 1926, yang ada di Kawah Kamojang, dan saat ini mungkin nanti akan bisa dilihat masih menyemburkan uap seperti halnya 100 tahun yang lalu," ujarnya dalam kegiatan kunjungan lapangan dan diskusi pengembangan energi panas bumi di Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).

Ia mengungkapkan, keberadaan sumur tersebut menunjukkan energi panas bumi memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam jangka panjang. Meski pengeboran pertama dilakukan pada 1926, pemanfaatan panas bumi Kamojang untuk pembangkit listrik secara komersial baru dimulai pada 1983.

Saat ini, kawasan Kamojang memiliki lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Tiga unit dioperasikan oleh PLN Indonesia Power, sedangkan dua unit lainnya dioperasikan oleh PGE.

"Pembangkit di kawasan ini masih beroperasi dengan tingkat pemanfaatan yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan listrik, khususnya di Pulau Jawa," katanya.



Mengapa Panas Bumi Bisa Bertahan Lama?

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Lambok M. Hutasoit, menjelaskan, energi panas bumi berasal dari panas di dalam bumi yang memanaskan air pada lapisan batuan di bawah permukaan. Dalam sistem panas bumi, terdapat tiga komponen utama, yakni sumber panas, reservoir atau tempat berkumpulnya fluida panas bumi, serta fluida berupa air atau uap.

Prof Lambok bilang, air hujan memiliki peran penting dalam keberlangsungan sistem panas bumi. Air hujan yang meresap ke dalam tanah dapat mencapai lapisan batuan yang lebih dalam dan mengalami pemanasan akibat sumber panas dari dalam bumi.

"Air itu dari mana? Air hujan. Air hujan masuk, kemudian dipanaskan oleh magma," jelas Lambok dalam kesempatan yang sama.

Air yang telah mengalami pemanasan tersebut kemudian menjadi bagian dari sistem panas bumi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Lambok menjelaskan, panas bumi memiliki keunggulan karena sumber panas dari dalam bumi tersedia dalam jangka waktu sangat panjang.

Selain itu, pasokan air dari proses alami juga berperan dalam menjaga keberlangsungan sistem tersebut. Meski demikian, ia menekankan pentingnya menjaga kawasan resapan air agar sumber energi panas bumi dapat terus dimanfaatkan.

Ia bilang, daerah resapan merupakan lokasi masuknya air hujan ke dalam sistem bawah permukaan. Sehingga, perubahan kondisi lingkungan di kawasan tersebut perlu diperhatikan.

"Daerah resapan harus dipelihara. Jangan sampai terganggu. Jangan berkurang resapannya," ujarnya.

Lambok juga menjelaskan, panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah sumber energi terbarukan lainnya karena dapat menghasilkan energi secara lebih stabil. Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga surya yang produksinya dipengaruhi intensitas sinar matahari, pembangkit panas bumi tidak bergantung secara langsung pada kondisi cuaca harian.

"Geothermal ini stabil," jelasnya saat membandingkan karakteristik panas bumi dengan energi surya.

Dengan karakteristik tersebut, panas bumi dapat menjadi salah satu sumber listrik yang mendukung kebutuhan energi secara berkelanjutan, katanya.

Kamojang Jadi Saksi Sejarah Energi Indonesia

Sementara itu, Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial, Tina Talisa mengatakan, kawasan Kamojang memiliki nilai sejarah penting karena menjadi titik awal pengembangan panas bumi di Indonesia.

"Awal mula energi panas bumi di Indonesia dimulai dari Kamojang. Jadi usianya sudah satu abad," kata Tina.

Ia menjelaskan, keberadaan sumur panas bumi yang telah berusia 100 tahun menjadi salah satu gambaran potensi sumber daya energi yang dimiliki Indonesia. Namun, menurutnya, pengembangan energi panas bumi tidak hanya berkaitan dengan produksi listrik.

Keberadaan pembangkit juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Tina menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, akademisi, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan pengembangan panas bumi.

Kawasan Kamojang sendiri kini tidak hanya menjadi lokasi pembangkit listrik, tetapi juga pusat edukasi mengenai energi panas bumi melalui Geothermal Information Center (GIC). Di tempat tersebut, masyarakat dapat mempelajari proses terbentuknya panas bumi hingga pemanfaatannya untuk menghasilkan listrik.

Setelah satu abad sejak pengeboran pertama pada masa kolonial Belanda, Kamojang masih menjadi bagian penting dari pengembangan energi panas bumi Indonesia. Sementara sumur bersejarahnya tetap mengeluarkan uap, kawasan ini terus dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik dan mendukung kegiatan masyarakat sekitar.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Anak Orang Terkaya Tiba-Tiba Jadi Profesor di Kampus Bergengsi Inggris


Most Popular
Features