Tak Cuma Hasilkan Listrik, Panas Bumi Kamojang Gerakkan Ekonomi Warga

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
22 October 2026 13:09
Sumur Panas Bumi Peninggalan Belanda di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)
Foto: Sumur Panas Bumi Peninggalan Belanda di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

Jakarta, CNBC Indonesia - Panas bumi ternyata tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, energi yang berasal dari dalam perut bumi ini juga digunakan untuk membantu masyarakat mengembangkan usaha, mulai dari mengolah hasil pertanian hingga membudidayakan ikan.

Melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang berupaya memanfaatkan energi panas bumi untuk meningkatkan nilai jual produk lokal. Salah satu pemanfaatannya adalah teknologi pengeringan hasil pertanian yang menggunakan panas bumi.

Teknologi ini membantu masyarakat mengolah komoditas seperti kentang dan ubi ungu menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Perwakilan fungsi pemberdayaan masyarakat dan kehumasan PGE Area Kamojang, Irwandi, menjelaskan, pemanfaatan panas bumi secara langsung menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendorong kegiatan ekonomi masyarakat sekitar.

Direktur Operasional PGE, Andi Joko saat ditemui di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)Direktur Operasional PGE, Andi Joko saat ditemui di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira) Foto: Direktur Operasional PGE, Andi Joko saat ditemui di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)


"Di Kamojang ini unik. Selain kita punya sumber daya panas bumi untuk menghasilkan listrik, ternyata sumber daya ini bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan ekonomi masyarakat," jelas Irwandi dalam kegiatan kunjungan lapangan dan diskusi pengembangan energi panas bumi di Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).

Ia bilang, salah satu inovasi yang dikembangkan bersama masyarakat adalah Geodehydrator, yakni alat pengering yang memanfaatkan panas bumi untuk mengolah hasil pertanian. Inovasi tersebut berawal dari kebutuhan petani setempat yang ingin mengolah hasil panen agar tidak hanya dijual dalam kondisi segar.

"Mereka mengusulkan, Pak kita punya olahan hasil pertanian nih, kira-kira selain dijual fresh begitu, bisa nggak ya kita olah lagi dengan menggunakan pengeringan panas bumi," ungkapnya.

Dari kebutuhan tersebut, PGE bersama masyarakat mengembangkan teknologi pengeringan yang memanfaatkan sumber panas bumi di sekitar kawasan pembangkit. Irwandi bilang, teknologi tersebut dapat membantu mempercepat proses pengeringan sekaligus meningkatkan kapasitas pengolahan produk.

"Intinya adalah kita ini menciptakan efisiensi waktu pengeringan, sehingga didapatkan produksi yang lebih banyak, dengan kualitas yang lebih baik, dan juga bisa memiliki daya jual yang tinggi," ujarnya.

Panas Bumi untuk Budidaya Ikan

Tak hanya hasil pertanian, panas bumi di Kamojang juga dimanfaatkan untuk mendukung budidaya ikan melalui program yang disebut Geofishery. Irwandi menjelaskan, ide tersebut muncul dari masyarakat yang menghadapi tantangan dalam membudidayakan ikan karena suhu air di kawasan Kamojang relatif dingin.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperlambat pertumbuhan ikan. Masyarakat kemudian mengusulkan pemanfaatan panas bumi untuk membantu menghangatkan air kolam.

PGE selanjutnya mengembangkan sistem yang memungkinkan panas bumi digunakan untuk mendukung kegiatan budidaya tersebut.

"Bagaimana kalau kita hangatkan airnya dengan menggunakan panas bumi, dan ternyata memang sangat bisa, dan terciptalah ide inovasi geofishery," jelas Irwandi.

Berdasarkan perbandingan yang dilakukan dalam program tersebut, Irwandi mengklaim ikan yang dibudidayakan menggunakan air yang dihangatkan dengan panas bumi dapat memiliki bobot sekitar 85% hingga 90% lebih tinggi dibandingkan ikan yang dipelihara menggunakan air biasa dalam periode yang sama. Namun, ia tidak merinci jenis ikan, jumlah sampel, maupun kondisi pengujian dalam pemaparannya.

Pengembangan usaha masyarakat juga tidak berhenti pada budidaya ikan. Hasil perikanan kemudian diolah menjadi berbagai produk, termasuk abon ikan, ikan asin, dan ikan asap. Bahkan, panas bumi juga dimanfaatkan untuk mendukung proses pengeringan bahan pakan ikan.

Dari Kopi hingga Produk UMKM

Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial, Tina Talisa, mengatakan pemanfaatan langsung panas bumi di Kamojang menunjukkan bahwa energi tersebut memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan listrik. Ia mencontohkan pemanfaatan panas bumi dalam proses pengeringan kopi.

Menurut Tina, proses pengeringan kopi di kawasan pegunungan dapat menghadapi kendala akibat kondisi cuaca yang sering hujan dan lembap. Penggunaan panas bumi membantu mempercepat pengeringan sehingga proses pengolahan tidak sepenuhnya bergantung pada sinar matahari. Tina juga menyoroti pengembangan usaha perikanan dan berbagai produk olahan yang dikerjakan masyarakat setempat.

"Jadi ikan itu kan butuh hangat, di sini kan dingin, dihangatkan dengan pakai panas bumi," ujarnya.

Selain budidaya ikan, Tina menyebut adanya kelompok usaha masyarakat yang mengolah berbagai produk makanan, termasuk keripik dan hasil pertanian lainnya. Menurutnya, pengembangan panas bumi perlu memberikan manfaat nyata bagi warga yang tinggal di sekitar wilayah operasional pembangkit.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Gen Z Pantang Gengsi Jadi Petani Kentang, Sekali Panen 9,5 Ton


Most Popular
Features