19.251 Warga RI Diprediksi Meninggal karena Suhu Panas El Nino
Jakarta, CNBC Indonesia - Suhu panas ekstrem yang dipicu fenomena super El Niño diprediksi bisa memicu 450.000 kematian di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Para ahli iklim sendiri memperkirakan fenomena ini berlangsung pada September 2026 hingga Februari 2027.
Badan khusus PBB, World Meteorological Organization (WMO) mengungkapkan bahwa El Nino akan terus menguat sebelum mencapai puncak proyeksinya pada bulan Desember. Kondisi mengkhawatirkan ini akan merombak total pola cuaca serta memberikan dampak dahsyat pada ekonomi, ekosistem, dan masyarakat di seluruh dunia.
Menurut laporan Climate Impact Lab, dampak panas ekstrem akan dirasakan di berbagai belahan dunia, terutama negara-negara tropis, mulai dari Nigeria, Indonesia, Sudan, India hingga Brasil. Ancaman tersebut juga mencakup Amerika Serikat serta wilayah Sahel di Afrika dan Asia Tenggara.
Indonesia Masuk Tiga Negara dengan Proyeksi Kematian Tertinggi
Berdasarkan proyeksi tambahan kematian akibat panas terkait El Niño antara September 2026 dan Februari 2027, berikut 10 negara dengan angka perkiraan tertinggi:
1. Nigeria - 31.320
2. Indonesia - 19.251
3. Sudan - 17.430
4. India - 15.670
5. Brasil - 13.271
6. Republik Demokratik Kongo - 10.014
7. Niger - 9.900
8. Chad - 7.953
9. Filipina - 6.504
10. Vietnam - 5.566
Angka-angka tersebut merupakan estimasi, bukan jumlah kematian yang telah tercatat. Perbedaan kecil dapat ditemukan dalam publikasi lain yang merangkum laporan tersebut, termasuk proyeksi sekitar 19.300 kematian tambahan di Indonesia.
Fenomena El Niño Capai Tingkat Panas yang Belum Pernah Terjadi
Situ Rawa Bedeng, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/10/2026). Situ seluas sekitar delapan hektare yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan air warga dan pertanian itu mengering setelah enam bulan dilanda kemarau. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: CNBC Indonesia/Tri Susilo |
El Niño merupakan fenomena iklim alami yang terjadi akibat perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Namun, pemanasan global dapat memperburuk dampak yang ditimbulkannya.
Ancaman kematian ini muncul ketika fenomena El Niño 2026 berkembang menjadi salah satu peristiwa paling parah yang pernah terjadi.
Pada Senin, 21 September 2026, laporan The Guardian menyebut kenaikan suhu laut Pasifik yang berkaitan dengan El Niño telah melampaui rekor sebelumnya, beberapa bulan sebelum fenomena tersebut diperkirakan mencapai puncaknya. Para ilmuwan menggambarkan intensitasnya sebagai sesuatu yang mencengangkan, bahkan menggunakan istilah "Godzilla" untuk menggambarkan skalanya.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebelumnya memperingatkan bahwa El Niño akan menguat dalam beberapa bulan mendatang dan berpotensi bertahan hingga Februari 2027. Fenomena ini dapat mengubah pola suhu dan curah hujan dunia, meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, banjir, serta kebakaran hutan.
Panas Ekstrem Mengancam Berbagai Kelompok Masyarakat
Prof. Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab dari University of Chicago sekaligus penulis laporan, mengatakan angka proyeksi tersebut menggambarkan dampak nyata terhadap kehidupan manusia.
"Angka perkiraan 451.000 jiwa merupakan jumlah yang sangat besar hingga terasa mencengangkan, namun angka tersebut mencakup orang tua dan anak-anak, kakek-nenek dan tetangga, serta orang-orang yang pergi bekerja, mengurus keluarga, dan menjalani kehidupan mereka."
Para peneliti memperkirakan dampak kematian akibat panas tidak akan berhenti pada Februari 2027. Tingkat kematian yang lebih tinggi diperkirakan masih berlanjut hingga Juni atau Juli 2027, meskipun periode proyeksi utama dibatasi oleh ketersediaan prakiraan suhu saat ini.
Selain paparan panas secara langsung, El Niño juga dapat memicu kekeringan, kebakaran hutan, gangguan pertanian, serta banjir di berbagai wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kerentanan masyarakat, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk beradaptasi.
