Ahli Jelaskan Perbedaan Tikus vs Curut, Mana Lebih Berbahaya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Tikus dan curut sering kali dianggap sebagai hewan yang sama. Keduanya memiliki tubuh kecil, berwarna gelap, dan kerap ditemukan berkeliaran di sekitar rumah. Namun, tahukah bahwa tikus dan curut sebenarnya merupakan dua jenis hewan yang berbeda?
Dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University, Dr Swastiko Priyambodo menjelaskan, perbedaan tikus dan curut tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga jenis makanan, habitat, hingga risiko penyakit yang dapat ditularkan kepada manusia.
Ia bilang, mengenali perbedaan kedua hewan tersebut penting agar masyarakat tidak salah dalam mengidentifikasi sekaligus lebih waspada terhadap potensi gangguan kesehatan.
Swastiko menjelaskan, tikus termasuk dalam kelompok hewan pengerat atau ordo Rodentia. Sementara itu, curut secara tradisional dikelompokkan dalam ordo Insectivora.
"Tikus termasuk dalam ordo Rodentia atau kelompok hewan pengerat, pemakan segala terutama serealia. Sementara curut termasuk dalam ordo Insectivora yang umumnya memakan serangga dan cacing tanah," jelas Swastiko, dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (20/10/2026).
Dari segi penampilan, tikus umumnya memiliki ekor panjang dengan moncong berukuran sedang dan proporsional. Sebaliknya, curut mempunyai ekor lebih pendek dengan bentuk moncong yang relatif lebih panjang dan runcing.
Perbedaan lainnya terletak pada tempat tinggal. Tikus rumah dengan nama ilmiah Rattus tanezumi biasanya menghuni bagian atas bangunan, seperti langit-langit atau plafon rumah.
Sementara itu, curut rumah atau Suncus murinus lebih sering ditemukan di permukaan tanah maupun lantai.
"Habitat tikus rumah di para-para atau langit-langit, sedangkan habitat curut rumah di permukaan tanah atau lantai," ujarnya.
Selain tikus rumah, terdapat pula mencit rumah (Mus musculus) yang berukuran lebih kecil serta tikus got (Rattus norvegicus) yang memiliki tubuh lebih besar. Ketiga jenis hewan pengerat tersebut dikenal sebagai rodensia kosmopolit karena penyebarannya sangat luas dan mengikuti keberadaan manusia di berbagai belahan dunia.
Mana yang Lebih Berbahaya bagi Kesehatan?
Meski sekilas terlihat serupa, tikus dan curut memiliki perbedaan dari sisi risiko kesehatan. Swastiko mengungkapkan tikus dapat menjadi pembawa berbagai penyakit yang berpotensi menular kepada manusia.
Beberapa penyakit yang berkaitan dengan tikus antara lain pes, leptospirosis, dan infeksi hanta virus. Leptospirosis, misalnya, merupakan penyakit yang dapat menular melalui paparan air atau lingkungan yang terkontaminasi urine hewan terinfeksi, termasuk tikus.
Sementara itu, Swastiko menyebut curut tidak membawa penyakit yang sama seperti tikus. Meski demikian, keberadaan curut di lingkungan rumah tetap perlu ditangani dengan hati-hati karena hewan liar juga berpotensi membawa mikroorganisme penyebab penyakit.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan mengenali jenis hewan yang ditemukan di rumah sebelum menentukan cara penanganan yang tepat.
Swastiko menjelaskan tikus rumah, mencit rumah, maupun curut rumah dapat ditangkap menggunakan perangkap berperekat atau glue trap. Namun, proses penanganannya harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kontak langsung dengan hewan maupun benda yang berpotensi terkontaminasi.
Masyarakat juga perlu menjaga kebersihan lingkungan rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta mengurangi tempat yang berpotensi menjadi persembunyian hewan tersebut.
(hsy/hsy)