Suka Makan Pedas? Studi Ungkap Cabai Bisa Redakan Nyeri
Jakarta, CNBC Indonesia - Sensasi lidah terbakar setelah mengonsumsi makanan pedas kerap dianggap menyiksa bagi sebagian orang. Namun, sebuah studi kecil terbaru mengenai persepsi sensorik manusia justru menemukan fakta unik yakni mengonsumsi sesuatu yang pedas ternyata dapat membantu mengurangi sensasi nyeri fisik yang hebat.
Studi bertajuk "Acute spicy stimulation reduces laser-induced heat pain perception in healthy adults" yang dipublikasikan dalam jurnal Physiology & Behavior ini menguji bagaimana rasa pedas di mulut dapat memengaruhi cara otak memproses rasa sakit di bagian tubuh yang lain.
Mengutip laporan PsyPost, para peneliti menemukan bahwa mengemut gelatin yang mengandung cabai di dalam mulut berhasil mengurangi tingkat keparahan reaksi seseorang terhadap panas laser intensitas tinggi yang diarahkan ke tangan mereka. Menariknya, efek pereda nyeri ini hanya bekerja pada nyeri yang intens, dan tidak berpengaruh pada rasa sakit akibat panas ringan.
Di balik efek unik ini, ada peran kapsaisin, yakni komponen kimia aktif yang memberikan rasa pedas ikonik pada cabai. Saat dikonsumsi, kapsaisin akan berikatan dengan reseptor spesifik dalam tubuh yang disebut TRPV1. Reseptor yang tersebar di mulut, lidah, dan kulit ini berfungsi mendeteksi suhu panas lingkungan yang berbahaya.
Ketika seseorang memakan cabai, kapsaisin berikatan dengan TRPV1 dan langsung "menipu" sistem saraf. Otak akan mencatat adanya sensasi terbakar yang hebat, padahal secara fisik tidak ada pembakaran maupun kerusakan jaringan yang terjadi pada tubuh.
Di dunia medis, sifat kimia kapsaisin ini sebenarnya sudah lama dimanfaatkan dalam bentuk krim atau plester topikal dosis tinggi untuk mengobati kerusakan saraf, radang sendi, dan nyeri otot.
Dengan memberikan stimulasi rasa terbakar yang konstan dan ringan, nosiseptor (neuron sensorik respons nyeri) akan menjadi "lelah" dan akhirnya berhenti mengirimkan sinyal nyeri ke otak.
(hsy/hsy)