Bukan Jatuh Cinta-Lapar, Bisa Jadi Jantung Berdebar Kencang Gegara Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Deg-degan atau jantung berdebar sering kali dikaitkan dengan kondisi jatuh cinta. Hal ini pun sering jadi referensi di berbagai novel, maupun film-drama di televisi.
Di kali lain, hal ini pun menjadi meme yang berseliweran di medsos. Unggahan-unggahan "menyindir" dengan nada humor. Misalnya, "dikira jatuh cinta, ternyata deg-degan sampai gemetar gegara lapar".
Dan, usut punya usut, deg-degan atau jantung bergetar/ berdebar bukan cuma gegara lapar atau jatuh cinta. Bisa jadi, efek setelah mengonsumsi makanan/ minuman tertentu.
Berikut makanan/ minuman yang disebut dapat memicu jantung berdebar, melansir Beautynesia:
1. Kopi
Minum kopi sudah jadi bagian aktivitas harian banyak orang. Ada yang menyebutnya ampuh mengatasi kantuk, menambah semangat, hingga menjaga mood. Bahkan, sampai ada klaim, hari buruk dapat diatasi dengan secangkir kopi.
Di sisi lain, minum kopi ternyata menyimpan efek. Tak sedikit yang mengaku jantungnya terasa berdebar lebih cepat setelah minum kopi.
Kenapa?
Disebutkan, kafein dalam kopi bisa memicu palpitasi jantung. Apa itu?
Yaitu sensasi abnormal pada detak jantung, ditandai jantung berdebar kencang atau berdetak cepat.
British Heart Foundation pun menjelaskan, jika mengonsumsi kafein setara 4-5 cangkir kopi per hari tidak menyebabkan aritmia jantung atau irama jantung abnormal pada orang sehat. Namun, jika lebih dari itu, berpotensi memicu palpitasi.
2. Makanan Tinggi Gula
Minuman/ makanan manis dapat memicu lonjakan kadar gula dengan cepat. Setelahnya, kadar gula dapat turun drastis, yang memicu fluktuasi ekstrem di dalam tubuh.
Tubuh dapat merespons perubahan ini dengan munculnya rasa gelisah hingga peningkatan detak jantung.
Jika berulang, seseorang yang sensitif perubahan gula darah akan mengalami jantung berdebar lebih sering.
3. Makanan Pedas
Kandungan capsaicin dalam makanan pedas dapat memicu pelepasan panas dan meningkatkan metabolisme. Kondisi ini disebut bisa mempercepat denyut jantung secara sementara.
Selain itu, makanan pedas bisa mengakibatkan gangguan pencernaan seperti refluks asam. Akibatnya, muncul sensasi tak nyaman di dada, yang kemudian sering disalahartikan sebagai palpitasi.
4. Makanan Tinggi Lemak
Makanan dengan kandungan lemak jenuh tinggi seperti gorengan dan daging berlemak ternyata dapat memicu detak jantung yang lebih cepat.
Konsumsi berlebihan dan jangka panjang dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Risikonya adalah gangguan pada pembuluh darah.
Kondisi ini akan memacu jantung bekerja lebih keras, hingga kemudian menimbulkan sensasi berdebar. Terutama ini akan lebih terasa pada seseorang dengan riwayat masalah jantung.
5. Makanan Ringan Olahan
Camilan seperti keripik maupun makanan instan lainnya disebut mengandung sodium, gula, dan lemak tidak sehat yang tinggi.
Jika dikonsumsi berlebih dan rutin, akan memaksa jantung bekerja keras memompa darah ke seluruh tubuh. Hal inilah yang kemudian menimbulkan sensasi jantung berdetak cepat.
6. Produk Kue Kemasan
Biskuit, kue kering, maupun pastry juga masuk dalam kelompok panganan yang dapat memicu jantung berdebar cepat.
Kandungan gula dan lemak jenuhnya, jika dikonsumsi sering dan jangka panjang, akan mendorong jantung bekerja keras. Yang kemudian menimbulkan sensasi berdebar.
7. Daging Olahan
Sosis, ham, bacon, atau daging olahan lainnya mengandung garam dan lemak dengan kadar tinggi disebut akan menyebabkan tekanan darah dan memengaruhi fungsi jantung. Yang dapat memicu gangguan jantung, termasuk palpitasi.
8. Makanan Tinggi Tiramin
Tiramin, yaitu senyawa kimia dari asam amino bernama tirosin dapat ditemukan dalam makanan fermentasi, keju tua, dan beberapa produk olahan lainnya. Senyawa ini dapat memengaruhi tekanan darah dan detak jantung.
Bagi orang yang sensitif, tiramin dapat memicu detakan jantung yang lebih cepat atau palpitasi.
Karena itu, penting memperhatikan reaksi tubuh saat mengonsumsi makanan/ minuman tertentu. Dengan begitu, jika suatu saat mengalami palpitasi, dapat mengetahui penyebabnya. Dan, untuk lebih pastinya, sebaiknya konsultasikan ke dokter.
source on Google [Gambas:Video CNBC]