Kasus Covid-19 di Singapura Meledak ke 12.700, Ini Penyebabnya

Redaksi,  CNBC Indonesia
23 May 2026 06:30
Infografis/ Fakta-fakta Covid-19 Singapura: 'Meledak' Terus, Melebihi RI/Aristya Rahadian
Foto: Infografis/ Fakta-fakta Covid-19 Singapura: 'Meledak' Terus, Melebihi RI/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus infeksi Covid-19 di Singapura tiba-tiba melonjak. Siklus periodik ini disebut telah diperkirakan akan terjadi, sepanjang tahun.

Dari unggahan di akun Instagram resminya, CDA (Communicable Diseases Agency), yaitu badan kesehatan masyarakat di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Singapura terungkap, estimasi kasus infeksi pada periode tanggal 3-9 Mei 2026 adalah sekitar 8.000 kasus. Dengan angka rata-rata harian yang harus dirawat di RS adalah 56 kasus.

Namun, pada tanggal 10-16 Mei 2026, kasus infeksi diestimasi melonjak jadi 12.700. Dengan rata-rata rawat di RS naik jadi 73 kasus per hari.

Kasus rawat di RS ini termasuk rata-rata 1 orang rawat di ICU setiap harinya.

CDA menegaskan, varian yang beredar secara lokal tidak menunjukkan tanda-tanda lebih menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Disebutkan, varian yang saat ini beredar adalah NB.1.8.1. Turunan dari varian JN.1, varian yang memicu setidaknya lebih dari setengah kasus penularan yang terjadi di Singapura.

Ditambahkan, vaksin Covid-19 saat ini tetap efektif untuk melindungi diri dari varian tersebut.

Lantas, apa penyebab lonjakan kasus infeksi Covid-19 di Singapura?

Menurut CDA, lonjakan periodik kasus infeksi Covid-19 diperkirakan terjadi seiring dengan terjadinya penyakit pernapasan endemik.

"Peningkatan kasus dapat terjadi akibat berbagai faktor. Termasuk, penurunan kekebalan penduduk," tulis CDA, dikutip Sabtu (23/5/2026).

Karena itu, CDA mengimbau warganya meng-update vaksinasi Covid-19, terutama bagi kelompok rentan. Seperti, warga berusia 60 tahun ke atas. Juga bagi warga yang rentan secara medis, usia 6 bulan ke atas.

Agar tetap aman, warga harus tetap menerapkan kebiasaan pencegahan penularan, yaitu:

- mencuci tangan secara teratur
- tutup hidung dan mulut sat batuk atau bersin
- pakai masker jika memiliki gejala seperti pilek, sakit tenggorokan, atau demam
- jika sedang sakit, kurangi interaksi sosial dan perjalanan lain yang tidak mendesak.

(dce/dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Apakah Hantavirus "The Next Covid"? Ini Penjelasan WHO


Most Popular
Features