Israel Masuk 10 Besar Negara Paling Bahagia di Dunia, Kok Bisa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Rahasia hidup bahagia ternyata bukan cuma soal uang. Laporan terbaru World Happiness Report 2026 mengungkap negara-negara dengan dukungan sosial kuat dan tingkat kepercayaan tinggi justru menduduki posisi teratas.
Itu terjadi pada Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia. Negara Nordik itu mempertahankan posisi puncak selama sembilan tahun beruntun, mengungguli puluhan negara lain dalam penilaian kualitas hidup masyarakatnya.
Tak hanya Finlandia, sejumlah negara Eropa Utara lain juga mendominasi daftar tersebut. Laporan disusun berdasarkan survei Gallup World Poll terhadap lebih dari 147 negara. Responden diminta menilai kualitas hidup mereka dalam skala 0 hingga 10.
Finlandia mencatat skor tertinggi yakni 7,76, sedangkan Amerika Serikat berada di posisi ke-23 dengan skor 6,81. Survei ini mengukur seberapa puas seseorang terhadap hidupnya secara keseluruhan.
Direktur Wellbeing Research Centre University of Oxford, Jan-Emmanuel De Neve menyebut, Finlandia unggul karena melakukan banyak hal dengan benar.
Alasan Finlandia Bisa Paling Bahagia
Peneliti mengidentifikasi enam faktor utama yang mempengaruhi tingkat kebahagiaan, yakni pendapatan per kapita, dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan dalam mengambil keputusan hidup, tingkat kedermawanan, serta persepsi terhadap korupsi.
"Finlandia melakukan banyak hal dengan benar. Mereka memiliki kekayaan yang tinggi dan mendistribusikannya. Mereka memiliki dukungan sosial yang hebat. Mereka saling percaya dan mempercayai lembaga-lembaga. Mereka memiliki harapan hidup yang sehat dan sistem perawatan kesehatan publik yang hebat," ujar De Neve dikutip dari CNBC Make It, Jumat (22/5/2026).
Tak hanya itu, Finlandia juga dikenal dengan sistem kesehatan publik yang baik serta harapan hidup yang tinggi. Pemerintah bahkan memberikan cuti orang tua lebih dari lima bulan untuk kedua orang tua, ditambah sekitar 40 hari cuti tambahan bagi ibu hamil.
Dukungan perumahan dan layanan kesehatan universal juga menjadi faktor penting. Selain faktor ekonomi dan kebijakan, ada aspek lain yang tak kalah penting namun sulit diukur, yakni gaya hidup.
Salah satunya adalah kedekatan masyarakat Finlandia dengan alam, termasuk budaya sauna yang menjadi bagian dari keseharian.
"Di Finlandia saya pikir yang membedakan mereka dari Islandia, Denmark, Norwegia, mungkin adalah hubungan yang lebih kuat dengan alam. Mereka menyukai sauna mereka yang banyak di antaranya dapat ditemukan di luar ruangan," kata De Neve.
Di sisi lain faktor usia juga berpengaruh. Data menunjukkan negara-negara Nordik cenderung memiliki populasi yang lebih tua. Median usia di Finlandia hampir 43 tahun, lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat sekitar 38 tahun.
Menurut Sapien Labs, kelompok usia yang lebih tua umumnya melaporkan tingkat kesejahteraan lebih tinggi. Mereka cenderung memiliki hubungan keluarga yang lebih dekat, kehidupan yang lebih spiritual, serta tidak tumbuh dengan paparan teknologi seperti smartphone atau konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi.
10 Negara Paling Bahagia di Dunia 2026
1. Finlandia (7,76)
2. Islandia (7,54)
3. Denmark (7,53)
4. Kosta Rika (7,43)
5. Swedia (7,25)
6. Norwegia (7,24)
7. Belanda (7,22)
8. Israel (7,18)
9. Luksemburg (7,06)
10. Swiss (7,01)
Kenapa Israel tetap bahagia di tengah perang?
World Happiness Report 2026 menempatkan Israel di posisi 8 dunia meski sedang berada dalam situasi perang dan ketegangan keamanan berkepanjangan. Laporan ini tidak mengukur "mood sesaat", tetapi evaluasi hidup secara keseluruhan berdasarkan rata-rata tiga tahun, sehingga faktor jangka panjang seperti dukungan sosial, kesehatan, stabilitas ekonomi, rasa komunitas, dan kepercayaan sosial punya pengaruh besar.Â
Salah satu alasan utama yang sering disebut dalam laporan adalah bahwa Israel memiliki ikatan keluarga dan komunitas yang sangat kuat. Banyak peneliti menilai masyarakat Israel punya tingkat koneksi sosial, solidaritas, dan rasa kebersamaan yang tinggi, terutama saat krisis.
(hsy/hsy) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]