Sisi Gelap Demam Labubu: Pekerja Pabrik Diduga Dieksploitasi

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
15 January 2026 14:15
Mainan Labubu digantung di tas Hermes milik seorang penawar dalam lelang oleh Yongle International Auction di Beijing, Tiongkok, 10 Juni 2025. (REUTERS/Tingshu Wang)
Foto: Labubu (REUTERS/Tingshu Wang)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik senyum nakal boneka Labubu yang tengah menjadi tren global, tersimpan cerita pilu dari pabrik tempat mereka diproduksi.

Mengutip Guardian, sebuah lembaga sosial masyarakat (LSM) berbasis di New York, China Labor Watch (CLW) mengungkapkan adanya dugaan kuat praktik eksploitasi tenaga kerja di pabrik-pabrik pemasok di China yang memproduksi Labubu.

Labubu, yang dibuat oleh perusahaan mainan China, Pop Mart, telah menjadi salah satu ekspor terpopuler dari China. Boneka berbulu yang mendunia tahun lalu itu diperkirakan akan terus tumbuh popularitasnya pada 2026.

Pada paruh pertama 2025 saja, lini mainan "Monster", yang termasuk Labubu berhasil menghasilkan penjualan sebesar 4,8 miliar yuan (Rp 11,6 triliun) untuk perusahaan yang terdaftar di Hong Kong tersebut. 

CEO Pop Mart, Wang Ning. (Dok. Popmart)Foto: CEO Pop Mart, Wang Ning. (Dok. Popmart)

Menurut investigasi CLW, salah satu pemasok Pop Mart untuk Labubu terlibat dalam praktik eksploitatif di tempat kerja. Bentuk eksploitasinya beragam, mulai dari pekerja yang dipaksa menandatangani kontrak kosong, pekerja berusia 16-17 tahun dipekerjakan tanpa perlindungan khusus bagi pekerja muda yang diwajibkan oleh hukum China, keselamatan yang tidak memadai, dan pelanggaran hak buruh lainnya di pabrik di provinsi Jiangxi, China tenggara.

CLW mengirimkan penyelidik ke Shunjia Toys di kabupaten Xinfeng, Jiangxi, sebuah pabrik yang mempekerjakan lebih dari 4.500 orang, selama tiga bulan pada 2025. Para peneliti mewawancarai lebih dari 50 karyawan, termasuk tiga orang di bawah usia 18 tahun. Semua pekerja tersebut bekerja secara eksklusif untuk Labubu.

Para peneliti menemukan bahwa pabrik tersebut mempekerjakan pekerja berusia 16 hingga 18 tahun, yang legal menurut hukum China, tetapi harus dengan perlindungan khusus seperti larangan pekerjaan berbahaya atau berat.

Para pekerja berusia 16 hingga 18 tahun di Shunjia ditugaskan untuk posisi perakitan standar tanpa perbedaan beban kerja atau target produksi dengan pekerja dewasa.

"Para pekerja di bawah umur juga umumnya tidak memahami sifat kontrak yang mereka tandatangani, dan tidak memiliki konsep yang jelas tentang status hukum mereka ketika ditanya," kata laporan CLW.

Investigasi juga menemukan bahwa para pekerja secara rutin menandatangani kontrak kerja kosong. CLW mengatakan para pekerja diminta untuk mengisi detail pribadi mereka pada kontrak kerja, sementara detail kondisi kerja, seperti jangka waktu kontrak, isi pekerjaan, gaji, dan detail asuransi sosial dibiarkan kosong dan tidak dijelaskan.

"Para pekerja hanya diberi waktu maksimal lima menit untuk menyelesaikan proses tersebut dan secara tegas diberitahu untuk tidak membaca atau mengisi bagian lain," kata CLW.

Para pekerja mengatakan mereka diberi target produksi yang tidak realistis, dengan tim yang terdiri dari 25-30 pekerja diharuskan untuk merakit setidaknya 4.000 Labubu per hari. Hukum ketenagakerjaan China membatasi lembur bulanan hingga 36 jam, tetapi CLW menemukan bahwa para pekerja sering bekerja lebih dari 100 jam tambahan setiap bulan.

Shunjia Toys memiliki kapasitas produksi 12 juta mainan per tahun. Namun, wawancara CLW menunjukkan bahwa Shunjia sudah memproduksi jauh di atas 12 juta unit per tahun, karena dua tim saja diperkirakan memproduksi lebih dari 24 juta unit per tahun.

"Kesenjangan antara kapasitas yang direncanakan dan produksi aktual ini bukanlah hal yang tidak biasa di sektor manufaktur China. Ketika permintaan pasar meningkat pesat, produksi sering kali meluas jauh melampaui tingkat yang direncanakan, dengan tekanan yang dihasilkan ditanggung langsung oleh para pekerja," kata Li Qiang, direktur eksekutif CLW.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pop Mart Mau Rilis Labubu Mini, Laba Perusahaan Naik 400%


Most Popular
Features