Ramalan Itu Nyata, Ini Dia Daftar Wabah Baru Usai Covid-19

Lifestyle - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
04 July 2022 11:45
Infografis/Alert! WHO Resmi Tetapkan Corona Sebagai “Pandemi”/Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 ternyata bukan satu-satunya bencana kesehatan yang melanda dunia. Beberapa ahli telah memprediksi bahwa akan ada lagi pandemi baru setelah Covid-19.

Terbukti, ada virus baru yang berpotensi fatal muncul dari Afrika seperti cacar monyet (monkeypox). Penyakit tersebut menyusul virus Hendra dan penyakit hepatitis akut misterius yang muncul sebelumnya pada tahun ini.

Berikut adalah penjelasan mengenai tiga penyakit baru yang meresahkan dunia tersebut:


1. Hepatitis Akut Misterius

Hingga kini, penyakit hepatitis akut masih menjadi momok menakutkan, khususnya bagi para orang tua karena penyakit ini banyak menyerang anak-anak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan lebih dari 600 kasus hepatitis akut di 30 negara, termasuk di Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia. Meski demikian, penyebab pasti dari penyakit tersebut masih menjadi misteri.

Pada 27 Mei lalu, WHO mengonfirmasi bahwa sembilan anak telah meninggal akibat hepatitis akut. Dari semua kasus yang teridentifikasi di seluruh dunia, sekitar 6%, atau setidaknya 38 anak, membutuhkan transplantasi hati.

Usia anak-anak yang mengidap penyakit misterius ini berkisar dari 1 bulan hingga 16 tahun. Namun, lebih dari 75% kasus terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun, menurut WHO.

Hepatitis ditandai dengan kadar enzim hati yang terlalu tinggi. Pakar medis hingga kini masih berjuang untuk mengidentifikasi penyebab wabah tersebut. Meskipun tidak dikonfirmasi, ada bukti bahwa virus biasa adenovirus, jenis virus umum yang biasanya menyebabkan pilek, mungkin menjadi penyebabnya, kata Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA).

Beberapa peneliti lebih lanjut menyebut bahwa Adenovirus pada anak-anak yang sebelumnya telah terinfeksi Covid-19 memicu serangkaian peristiwa yang menyebabkan respons imun yang menyerang hati, sebagaimana dilaporkan oleh South China Morning Post.

Hepatitis akut bukan tipe penyakit yang tiba-tiba muncul dan langsung parah. Ada tiga tahap gejala yang akan dialami anak hingga penyakit ini benar-benar menuju ke tahap parah.

Tahap awal, yakni saat anak mengalami sakit perut, mual, muntah hingga diare. Kemudian gejala lanjutan yakni saat anak mulai mengalami penyakit kuning yang biasanya dimulai dari mata yang menguning hingga ke seluruh tubuh. Terakhir adalah tahap lanjutan parah, biasanya pada tahapan ini kondisi anak sudah benar-benar memburuk.

2. Virus Hendra

Virus Hendra (HeV) adalah anggota famili Paramyxoviridae, genus Henipavirus. HeV pertama kali ditemukan pada tahun 1994 dari spesimen yang diperoleh selama wabah penyakit pernapasan dan neurologis pada kuda dan manusia di Hendra, pinggiran kota Brisbane, Australia.

Para peneliti di Griffith University Australia menyebut bahwa varian dari virus tersebut bisa menular ke manusia. Virus ini juga terdeteksi di urine kelelawar berkepala hitam dan abu-abu yang menyebar di Australia, wilayah federal New South Wales (NSW) hingga Queensland.

"Hasil studi kami dengan meneliti spesies kelelawar tertentu mengungkapkan bagaimana varian virus Hendra menular ke kuda dan manusia," kata pemimpin penelitian Alison Peel dari Pusat Kesehatan dan Keamanan Pangan, dikutip situs resmi Universitas Griffith.

Virus Hendra lebih sering ditemukan pada akhir Mei hingga akhir Agustus, tetapi penularan diyakini bisa terjadi di semua musim. Menurut epidemiolog, 7 dari 10 orang manusia yang terinfeksi virus Hendra bisa meninggal dunia.

"Pada manusia pun, 70% kalau terpapar ya mematikan, 7 dari 10 orang manusia yang terkena virus Hendra ini meninggal," kata epidemiolog Dicky Budiman, sebagaimana dikutip oleh detikHealth.

Dicky mengungkapkan bahwa virus Hendra sebenarnya sudah lama ditemukan. Virus ini merupakan penyakit endemi yang hanya ditemukan di sejumlah wilayah.

Untuk itu, Dicky mengimbau masyarakat khususnya mereka yang memiliki peternakan untuk mewaspadai penularan virus Hendra. Sebab, virus ini bisa bertahan di kotoran hewan selama empat hari.

Sejak dilaporkan pada tahun 1994, virus Hendra tercatat memiliki angka kematian di atas 50%, baik pada hewan maupun manusia. Adapun "korban" terpapar paling banyak dilaporkan pada hewan kuda.

Kuda yang terinfeksi akibat terpapar kotoran dari kelelawar pemakan buah umumnya mengalami kondisi fatal, dengan sekitar 80% dari total kasus tak tertolong. Ancaman serupa juga mengintai manusia.

Dicky mengatakan virus Hendra memiliki gejala pada manusia seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, sama seperti penyakit flu disertai dengan meningitis atau encephalitis atau peradangan pada otak, dimana jika gejala ini berkembang bisa menyebabkan nyeri kepala, demam tinggi, dan juga kejang sampai koma.

3. Cacar Monyet (Monkeypox)

Terbaru adalah cacar monyet atau monkeypox. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini telah mencatat bahwa kasus cacar monyet telah naik dua kali lipat dalam waktu singkat. Pemimpin teknis cacar monyet dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rosamund Lewis, mengungkapkan kemunculannya yang tiba-tiba di beberapa negara di dunia menunjukkan virus telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa waktu.

Gejala awal jika terinfeksi cacar monyet adalah demam, sakit kepala, pembengkakan anggota tubuh, sakit punggung, nyeri otot, dan kelesuan. Setelah demam mencapai puncak dan mereda, ruam atau bintil merah pada kulit muncul dan berkembang. Seringkali, ruam dimulai pada wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya, paling sering pada telapak tangan dan telapak kaki.

Ruam, yang bisa terasa sangat gatal, kemudian mengering dan membentuk keropeng, yang kemudian terkelupas. Setelah itu, di tempat bekas ruam muncul bekas luka. Infeksi biasanya hilang dengan sendirinya dan berlangsung antara 14 dan 21 hari.

Sementara untuk cara penularan, cacar monyet dapat menular ke pihak lain ketika seseorang melakukan kontak fisik yang dekat dengan orang yang terinfeksi. Virus masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang rusak, saluran pernapasan atau melalui mata, hidung hingga mulut.

Penyakit ini tidak digambarkan sebagai infeksi yang dapat menular secara seksual, tetapi dapat ditularkan melalui kontak langsung saat berhubungan seks. Cacar monyet juga dapat menyebar melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi seperti monyet, tikus dan tupai, atau melalui benda yang terkontaminasi virus, seperti tempat tidur dan pakaian.

WHO telah menggelar rapat khusus untuk mempertimbangkan apakah wabah cacar monyet yang menyebar cepat perlu dinyatakan sebagai darurat global. Apabila ditetapkan sebagai keadaan darurat global, artinya WHO menganggap wabah itu sebagai "peristiwa luar biasa".

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menggambarkan epidemi cacar monyet baru-baru ini yang diidentifikasi di lebih dari 40 negara, sebagian besar di Eropa, sebagai "kejadian tidak biasa dan mengkhawatirkan." Selama beberapa dekade, cacar monyet telah menyebar di Afrika tengah dan barat dengan tingkat kematian 10% dari total pasien.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Apakah Seseorang Bisa Secara Alami 'Kebal' Terhadap Covid-19?


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading