Internasional

Ngeri, Covid Mutasi 32 Kali di Tubuh Wanita Ini dalam 7 Bulan

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
07 June 2021 15:40
People pass a sign at Groote Schuur Hospital in Cape Town, South Africa, indicating a COVID testing station Tuesday, Dec. 29, 2020. South African President Cyril Ramaphosa has declared the wearing of masks compulsory and has reimposed a ban on the sales of alcohol and ordered the closure of all bars and beaches as part of new restrictions to help the country battle a resurgence of the coronavirus, including a new variant. (AP Photo/Nardus Engelbrecht)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejadian mengejutkan terjadi di Afrika. Mutasi corona diketahui terjadi sebanyak 32 kali di tubuh seorang wanita selama 216 hari alias tujuh bulan.

Dalam laporan South China Morning Post (SCMP) yang mengutip Business Insider, wanita itu diidentifikasi tinggal di Afrika Selatan dan berusia 36 tahun. Ia diketahui mengidap HIV.


Secara rinci laporan diterbitkan situs kesehatan medRxiv. Dilaporkan bahwa virus melakukan 13 mutasi pada spike protein, yaitu protein yang membentuk mahkota virus corona, dan 19 mutasi lain yang mengubah perilaku virus.

Kendati demikian, sampai saat ini masih belum jelas apakah mutasi yang dibawanya itu menular ke orang lain atau tidak. Namun, ahli genetika di University of KwaZulu-Natal di Durban, Tulio de Oliveira, Afsel, mengatakan kasus seperti itu meningkatkan prospek bahwa infeksi HIV dapat menjadi sumber varian baru hanya karena pasien dapat membawa virus yang lebih lama.

Meski begitu, pengecualian tetap ada. Karena infeksi yang berkepanjangan membutuhkan immunocompromise yang parah.

Dilansir dari The Conversation, immunocompromised adalah istilah umum yang mencerminkan fakta bahwa sistem kekebalan seseorang tidak sekuat dan seimbang sebagaimana mestinya. Orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya rusak atau tidak efektif, tidak dapat menghentikan invasi dan kolonisasi benda asing, termasuk virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Hal sama juga dikatakan profesor penyakit menular di University of Barcelona, Dr Juan Ambrosini. Kasus seperti ini, kata dia, mungkin hanya terjadi pada pasien HIV yang memiliki masalah dengan sistem imun.

"Beberapa pasien yang mengalami imunosupresi (berkurangnya kapasitas sistem kekebalan tubuh) karena alasan lain (bukan HIV) terlihat membawa virus corona untuk waktu yang lama. Misalnya ada laporan kasus orang dengan transplantasi ginjal yang dinyatakan positif selama hampir setahun," kata Dr Ambrosini seraya menyebut kondisi yang sama dialami wanita Afsel itu.

Meski begitu, ia menambahkan bahwa penemuan ini sangat penting untuk pengendalian Covid-19. Apalagi untuk menguak fakta apakah pasien bisa menjadi sumber penularan dan bagaimana evolusi virus ke depan.

Perlu diketahui, pasien imunosupresi dapat membawa virus corona lebih lama daripada yang lain.Kasus ini bisa dengan mudah luput dari perhatian.

Pasalnya, setelah wanita itu dirawat di rumah sakit karena gejala awalnya, dia hanya menunjukkan gejala ringan Covid-19. Padahal dia masih membawa virus corona.

Para ilmuwan melihat kasus ini secara tak sengaja. Karena wanita tersebut terdaftar di dalam 300 orang dengan HIV yang terlibat dalam penelitian, untuk melihat tanggapan kekebalan tubuh mereka terhadap Covid-19.

Mengutip Los Angeles Times, para peneliti juga menemukan bahwa empat orang lain dengan HIV telah membawa virus corona selama lebih dari sebulan. Satu kasus lain dari orang dengan HIV yang membawa virus corona untuk jangka waktu yang lama telah dipublikasikan sebelumnya.

Temuan tersebut bisa menjadi sangat penting bagi Afrika karena negara tersebut memiliki 20,6 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2020 lalu. Sementara itu, WHO pada hari Jumat memperingatkan bahwa peningkatan tajam dalam infeksi dapat berubah menjadi gelombang ketiga Covid-19 di seluruh benua.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading