Jakarta Terburuk, Kota Paling Bahaya Soal Lingkungan di Dunia

Lifestyle - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 May 2021 11:45
Pengendara mobil melintas di jalan Protokol Ibukota Thamrin-Sudirman, Jakarta, Kamis (21/6). Usai libur lebaran sejumlah ruas jalan Protokol mulai diberlakukan kembali aturan ganjil-genap. Hal itu diberlakukan usai sistem ganjil-genap tidak diberlakukan di Jalan Sudirman-Thamrin dan Jalan Gatot Subroto mulai tanggal 11-20 Juni 2018 kemarin. Menurut pantauan CNBC Indonesia meski sudah memasuki hari awal kerja PNS sejumlah ruas jalan tersebut masih terlihat ramai lancar. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan konsultan Verisk Maplecroft baru-baru ini melaporkan mengenai kota-kota di dunia yang memiliki risiko bahaya lingkungan terbesar. Risiko yang dimaksud termasuk panas ekstrem, perubahan iklim, dan bencana alam.

Di antara 100 kota yang paling berisiko, 99 di antaranya berada di Asia, 37 di China dan 43 di India.

Hal yang paling menarik adalah masuknya Jakarta, bahkan berada di posisi pertama di daftar ini, sebagai kota yang akan mengalami ancaman lingkungan paling besar.


Tak hanya Jakarta, dalam daftar 10 teratas ini juga masuk dua kota besar lainya seperti Surabaya dan Bandung.

Dilansir dari CNBC, secara global laporan tersebut menemukan 414 kota di seluruh dunia, dengan populasi masing-masing lebih dari 1 juta ini berada kondisi rentan polusi, persediaan air yang menipis, panas yang ekstrim, bencana alam dan perubahan iklim.

Secara kolektif, kota-kota itu adalah rumah bagi 1,4 miliar orang.

Berikut 10 kota teratas yang mengalami risiko paling besar di dunia menurut Verisk Maplecroft.

  1. Jakarta, Indonesia
  2. Delhi, India
  3. Chennai, India
  4. Surabaya, Indonesia
  5. Chandigarh, India
  6. Agra, India
  7. Meerut, India
  8. Bandung, Indonesia
  9. Aligarh, India
  10. Kanpur, India


Menurut laporan tesebut, Jakarta dinobatkan menjadi kota paling berisiko secara global karena polusi udara yang parah. Selain itu juga adanya ancaman abadi dari banjir dan aktivitas seismik.

Jakarta juga dilaporkan sebagai salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia karena mengalami lalu lintas padat dan rawan banjir.

Kota-kota teratas selanjutnya berada di India, seperti New Delhi, telah menjadi berita utama karena kualitas udara yang sangat berbahaya sehingga para pejabat terpaksa mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat dan menutup sekolah.

Negara ini juga menghadapi tantangan kembar polusi udara dan air. Laporan tersebut mencatat bahwa udara berbahaya menyebabkan hampir satu dari lima kematian di India pada 2019 dan mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar US$ 36 miliar.

Sementara itu, polusi air menyebabkan hampir US$ 9 miliar biaya perawatan kesehatan tahunan dan menyebabkan 400.000 kematian setiap tahun di negara tersebut.

Masih di Asia, kota-kota di Asia Timur juga disebutkan lebih berisiko terhadap bencana alam.

Di Cina, Guangzhou dan Dongguan rawan banjir. Kota Shenzhen di Cina, serta Tokyo dan Osaka di Jepang menghadapi ancaman termasuk gempa bumi dan topan.

Polusi juga merupakan masalah besar di China. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Cina dan India menyumbang sebanyak 286 juta orang, dari 336 juta orang yang tinggal di kota-kota yang berisiko ekstrim terkena polusi.

Selanjutnya adalah Afrika yang juga tak lepas dari risiko dampak masalah lingkungan. Hal ini disebabkan karena perubahan iklim memperburuk risiko lingkungan dan benua Afrika paling rentan.

Laporan ini menyebutkan kota-kota di sana terpapar iklim ekstrem dan paling tidak memiliki perlengkapan untuk mengurangi dampak fisik.

"Bahaya yang signifikan bagi banyak kota adalah bagaimana perubahan iklim akan memperkuat risiko terkait cuaca," kata Will Nichols, kepala penelitian lingkungan dan perubahan iklim di Verisk Maplecroft, dalam laporan tersebut.

"Suhu yang lebih tinggi dan meningkatnya keparahan serta frekuensi kejadian ekstrem seperti badai, kekeringan, dan banjir akan mengubah kualitas hidup dan prospek pertumbuhan ekonomi banyak kota di seluruh dunia."

Bulan lalu, para pemimpin dari negara-negara seperti Brasil, Kanada, dan Jepang berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca domestik dan mengatasi perubahan iklim selama KTT iklim yang diselenggarakan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden.

Amerika Serikat telah berjanji untuk mengurangi emisi setidaknya 50% pada tahun 2030.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading