Internasional

Ramai Pelancong Inggris Minta Karantina di Turki, Kenapa?

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
06 May 2021 12:21
People walk in Istanbul, backdropped by the Galata Tower, during a curfew Tuesday, Dec. 1, 2020, part of the new measures to try curb the spread of the coronavirus. Turkey had gone into the most widespread lockdown so far amid a surge in COVID-19 infections, extending curfews to weeknights and full lockdowns over weekends. The curfew would be implemented on weekdays between 9:00 pm and 5:00 am. He also announced total weekend lockdowns from 9:00 pm on Friday evenings to 5:00 am Monday. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pelancong dunia asal Inggris ternyata memilih Turki sebagai tempat berlabuh sementara. Ini mereka lakukan untuk mencegah mahalnya biaya karantina di negeri Ratu Elizabeth seusai mendatangi wilayah zona merah seperti India, Bangladesh, Pakistan.

Turki sendiri tidak masuk dalam daftar red zone. Sehingga, pelacong tak perlu membayar biaya isolasi yang ditetapkan pemerintah di hotel sebesar £ 1.750 (Rp 35 juta) per orang dan bisa mengarantina diri di rumah.


Mengutip BBC International, banyak warga Inggris pulang dari India, Bangladesh dan Pakistan karena mendatangi kerabat, pernikahan ataupun datang ke pemakaman. Jika satu keluarga terdiri dari empat orang dan harus membayar sesuai aturan pemerintah, mereka harus mengeluarkan uang hingga 3.700 (Rp 75 juta).

Di Turki mereka hanya perlu memesan hotel lebih murah untuk karantina beberapa hari. Setelahnya mereka bisa kembali ke Inggris dan menjalani isolasi di rumah 10 hari.

Seorang agen perjalanan di Bradford mengatakan beberapa kliennya yang telah melakukan perjalanan ke Pakistan harus menghadapi tagihan yang besar untuk kembali ke Inggris. Ini pasca Pakistan dimasukkan dalam daftar terlarang Inggris pada 9 April.

"Saya mendapat pelanggan yang tidak mampu untuk kembali," kata Ascher Khawaja dari Oltrax Travel, mengutip biaya karantina Inggris.

Untuk meringankan beban kliennya, Khawaja mengatakan dia telah mengatur 15-20 perjalanan pulang melalui Turki. Turki telah melakukan penguncian tiga minggu lalu karena meningkatnya infeksi tetapi belum masuk ke dalam daftar merah Inggris.

"Dengan memperhitungkan hotel, itu berhasil mengeluarkan dana sekitar £ 600 (Rp juta) dibandingkan dengan £ 1.700-plus," tambah ia.

Turki sendiri mewajibkan pendatang untuk menyertakan hasil tes negative Covid-19 72 jam terakhir. Mereka juga harus memiliki tes PCR negatif untuk meninggalkan negara itu.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading