Internasional

Maaf, Ahli Kesehatan Sebut Vaksin Covid Cuma Efektif 30%

Lifestyle - sef, CNBC Indonesia
22 October 2020 07:45
A medical worker shows her life sign tattoo while she and fellow workers celebrate as the last three patients are released from a field hospital at the National Stadium Mane Garrincha, after recuperating from COVID-19, in Brasilia, Brazil, Thursday, Oct. 15, 2020. (AP Photo/Eraldo Peres)

corona global

Jakarta, CNBC Indonesia - Pernyataan mengejutkan diutarakan ahli kesehatan global. Bahwa, tak satupun dari uji coba kandidat vaksin corona (Covid-19) dapat mendeteksi penurunan rawat inap atau kematian akibat virus.

Dalam jurnal medis BMJ, Peter Doshi mengatakan bahwa uji coba vaksin berupaya membuktikan produk mana yang bisa mencegah orang terinfeksi corona. Namun warga dunia kemungkinan akan kecewa karena vaksin hanya mengurangi risiko infeksi 30%.




"Tak satu pun dari uji coba yang saat ini sedang berlangsung dirancang untuk mendeteksi pengurangan hal serius seperti masuk rumah sakit, penggunaan perawatan intensif, atau kematian," tulisnya sebagaimana dimuat AFP, Kamis (22/10/2020).

"Juga tidak ada vaksin yang sedang dipelajari untuk menentukan apakah mereka dapat menghentikan penularan virus."



Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi 42 kandidat vaksin dalam uj klinis. Sepuluh di antaranya disebut paling maju dan kini berada di tahap akhir pengujian, fase ketiga.

Namun Dosi mengatakan, evaluasi vaksin hanya berkutat di penyakit ringan bukan parah. Rata-rata relawan merupakan pasien dengan kasus ringan dan tanpa gejala.

Selain itu, manfaatnya ke para lansia juga masih dipertanyakan. Padahal mereka adalah kelompok paling rentan terinfeksi parah.

"Hanya ada sedikit dasar untuk mengasumsikan manfaat apa pun terhadap rawat inap atau kematian," tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengujian vaksin mengecualikan anak-anak dan ibu hamil. Sehingga tidak mungkin eksperimen ini memberi pemahaman bagaimana Covid-19 berkembang di antara individu yang berbeda.

Sementara itu di Brasil seorang relawan vaksin AstraZeneca dan Universitas Oxford meninggal karena Covid-19. Ia disebutkan seorang dokter berusia 28 tahun.

Belum ada pernyataan dari AstraZeneca. Namun Oxford mengatakan uji coba vaksin tetap diteruskan setelah penilaian dari tim independen.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading